Ulama

Oleh: Arif Munandar Riswanto

Berbicara tentang ulama adalah berbicara tentang peran dan kedudukan penting di dalam ajaran Islam. Disebut penting karena banyak hal fundamental yang hanya diberikan oleh Allah dan Rasulullah kepada ulama tetapi tidak diberikan kepada yang lain—termasuk kepada umara. Ulama didaulat oleh Rasulullah sebagai satu-satunya “kelompok” manusia yang meneruskan risalah perjuangan para Nabi. Ulama pun memiliki kedudukan istimewa di hadapan Allah sebagai satu-satunya kelompok manusia yang memiliki derajat tinggi (QS 58: 11). Bersama Allah dan para malaikat, ulama memberikan kesaksian tentang keesaan Allah (QS 3: 18). Bahkan, ulama kemudian dijamin oleh Allah sebagai satu-satunya kelompok manusia yang takut kepada-Nya (QS 35: 28). Lalu, siapakah ulama itu?

Ulama adalah bentuk jama’ dari kata ‘alim. Sedangkan kata ‘alim adalah isim fa’il dari kata ‘ilm (ilmu). Jadi, berbicara tentang ulama adalah berbicara tentang ilmu. Secara sederhana, ulama adalah orang yang memiliki ilmu. Jika ulama adalah orang yang memiliki hubungan erat dengan ilmu, kita kemudian bertanya, apakah ilmu itu?

Banyak definisi yang menjelaskan tentang makna ilmu. Al-Jurjani dalam At-Ta’rifat menjelaskan beberapa definisi ilmu. Di antara definisi yang dijelaskan olehnya adalah “Keyakinan pasti yang sesuai dengan kenyataan,” “Mendapatkan gambaran sesuatu di dalam akal,” “Mengetahui sesuai dengan benar,” “Hilangnya kesamaran dari yang diketahui,” “Datangnya jiwa kepada makna sesuatu.”

Hal yang menarik adalah definisi yang dijelaskan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Al-Attas menjelaskan bahwa ilmu adalah, “Tibanya makna ke dalam diri dan tibanya diri ke dalam makna.” Namun, menurut Al-Attas, definisi ilmu tersebut (yang mengakibatkan pengenalan/recognition) tidak akan bermanfaat jika tidak disertai dengan pengakuan (acknowledgement). Dalam bahasa sederhana, pengakuan adalah amal saleh. Sebab, pengenalan tanpa pengakuan adalah kebodohan (jahil). Sedangkan pengakuan tanpa pengenalan adalah kesombongan (seperti iblis). Inilah yang menjadi alasan mengapa dalam banyak ayat Allah senantiasa menyandingkan iman dengan amal saleh.

Islam telah menerangkan peran dan kedudukan ilmu dengan sangat jelas. Makna, sumber, hierarki, saluran, jenis, hukum, pahala, dan tujuan dalam ilmu telah sangat gamblang diterangkan oleh Islam. Bahkan, Islam pun telah menjelaskan tentang niat, doa, dan adab dalam mencari ilmu. Itulah yang menjadi alasan banyak ulama yang menulis buku tentang ilmu. Tidak berlebihan jika disebutkan bahwa tradisi seperti itu hanya ada dalam agama Islam.

Salah Memahami Ilmu

Al-Attas pernah menjelaskan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi oleh umat Islam pada zaman sekarang adalah tantangan ilmu. Namun, tantangan ilmu tersebut bukan berarti tantangan melawan buta huruf, tetapi tantangan dalam bentuk ilmu-ilmu sekular yang datang dari peradaban Barat. Ilmu-ilmu sekular tersebut kemudian menguasai akal dan pendidikan umat Islam. Al-Attas menulis, “I venture to maintain that the greatest challenge that has surreptitiously arisen in our age is the challenge of knowledge, indeed, not as against ignorance; but knowledge as conceived and disseminated throughout the world by Western civilization.”

Tantangan ilmu adalah tantangan ulama. Sebab, hanya ulama yang bisa menjawab tantangan ilmu. Namun, yang jadi pertanyaan kita, apakah orang-orang yang selama ini disebut “ulama” menyadari tantangan tersebut?

Kita tidak bisa menafikan, akibat sekularisasi yang terjadi pada akal umat Islam, banyak umat Islam yang salah memahami ilmu. Lebih parahnya lagi, kesalahan tersebut kemudian diterapkan dalam sistem pendidikan. Inilah yang mengakibatkan peradaban Islam masih terpuruk sampai saat sekarang. Padahal, setiap tahun perguruan-perguruan tinggi banyak meluluskan ahli-ahli dalam bidang kedokteran, politik, ekonomi, psikologi, pendidikan, linguistik, seni, dan lain sebagainya.

Salah satu kesalahan paling fatal yang terjadi pada akal umat Islam adalah ketika ilmu dipahami sebatas sains saja. Padahal, anggapan tersebut adalah keyakinan khas masyarakat Barat yang memiliki kebencian terhadap agama. Keyakinan seperti itu telah mengeliminasi wahyu sebagai salah satu sumber ilmu dan hanya menganggap panca indera sebagai satu-satunya alat paling absah untuk mendapatkan ilmu. Dugaan dan keraguan kemudian dianggap sebagai satu-satunya metode yang absah dalam mendapatkan ilmu. Padahal, dugaan dan keraguan bertentangan dengan hakikat dan makna ilmu. Sebab, hakikat ilmu yang sebenarnya adalah harus memberikan keyakinan dan kebenaran, bukan keraguan dan kebingungan.

Tidak aneh jika anak didik yang dilahirkan dari ilmu dan pendidikan seperti itu akan menjadi individu yang penuh kebingungan. Ilmu-ilmu sekular yang lebih menitikberatkan kepada skil-skil psikomotorik kemudian dianggap sebagai ilmu paling mulia.

Kesalahan fatal selanjutnya pada akal umat Islam modern adalah ketika “ilmu Islam” hanya dibatasi pada ilmu-ilmu fiqih. Memang betul, ilmu fiqih termasuk salah satu cabang ilmu hasil kreasi para ulama. Namun, ia hanya salah satu cabang saja, bukan segala-segalanya. Ada banyak permasalahan dan tantangan yang dihadapi oleh umat Islam tetapi tidak bisa dijawab dengan fiqih.

Akibat yang keliru dalam memahami ilmu, kita sering menisbatkan ulama kepada orang-orang yang ahli dalam bidang fiqih saja. Padahal, kalau kita renungkan ayat-ayat Allat tentang kedudukan ulama, seluruh ayat tersebut justru menerangkan “dimensi spiritual” dalam ilmu (seperti takut kepada Allah dan memberikan kesaksian tentang keesaan Allah), bukan dimensi fiqih. Inilah yang kemudian disayangkan oleh Al-Attas. Menurut Al-Attas, pandangan seperti itu pada hakikatnya memerosotkan makna ilmu. Lihat saja para ulama kita dahulu. Apakah Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, Ibnu Rusyd, Imam Haramain, Ibnul Jauzi, Al-Khathib Al-Bahgdadi, Ibnu Hazm, Abul Hasan Al-Asy’ari, Asy-Syahrastani, Al-Biruni, Ibnul Atsir, Al-Khawarizmi, dan lain sebagainya bukan ulama sebab mereka tidak hanya menulis fiqih tetapi menulis juga filsafat, tasawuf, ilmu kalam, mantik, kedokteran, perbandingan agama, dan sejarah?

Jika dikaitkan dengan dunia pendidikan, sungguh indah pesan Rasulullah tentang kedudukan ulama sebagai pewaris ajaran para nabi. Pesan tersebut erat kaitannya dengan guru. Guru sebagai sosok pendidik seharusnya adalah sosok ulama juga. Sebab, ia memiliki “profesi” yang ada kaitannya dengan ilmu. Namun, saya yakin, selain kualitas untuk menjadi ulama sangat jauh, banyak guru yang tidak memiliki pemikiran seperti itu.

Hal tersebut belum ditambah dengan tujuan-tujuan sekular yang ada dalam benak para guru. Tujuan dari “profesi” guru adalah mendapatkan gaji besar, menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan telah disertifikasi oleh negara (bukan oleh guru). Aktifitas guru pun seolah-olah seperti karyawan dalam sebuah perusahaan yang bernama sekolah. Pergi pagi dan pulang sore. Tidak lebih dan tidak kurang. Guru seperti itu banyak yang berhenti dalam mencari ilmu. Jangankan untuk melakukan riset dan membuat karya ilmiah, untuk membaca saja banyak yang malas. Akibatnya, ilmunya tidak bertambah.

Tujuan-tujuan sekular yang menggerogoti dunia pendidikan pun akhirnya menjadi inti yang harus dilakukan guru. Manusia seperti itu tentu saja sangat jauh jika harus diidentikan sebagai pewaris ajaran para nabi. Terlebih lagi manusia yang memiliki rasa takut kepada Allah. Al-Ghazali menyebut orang-orang seperti itu sebagai ulama dunia (‘ulama dunya), yaitu “Ulama buruk yang tujuan dari ilmu yang dimilikinya adalah untuk mendapatkan kesenangan dunia, jabatan, serta kedudukan.”

Kehilangan fungsi ulama dalam kehidupan sama dengan kehilangan fungsi para nabi. Jika hal tersebut terjadi, yang menjadi pemimpin dalam kehidupan adalah orang-orang bodoh yang sesat dan menyesatkan. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menghilangkan ilmu dengan cara mencabutnya dari manusia. Namun, Allah akan menghilangkan ilmu dengan mencabut (mematikan) ulama. Hingga ketika tidak ada orang berilmu, manusia akhirnya mengambil pemimpin-pemimpin bodoh. Mereka (pemimpin-pemimpin bodoh) tersebut kemudian ditanya (oleh orang-orang). Mereka (pemimpin-pemimpin bodoh) tersebut kemudian memberikan fatwa. Namun, mereka sesat dan menyesatkan” (HR Al-Bukhari). Jika ulama telah tiada, siapa yang akan memberikan petunjuk dalam kehidupan ini? Wallahu a’lam

Menghidupkan Ruh Pendidikan

Oleh: Dede Ruba’I Misbahul Alam, M.Pd.

Sejak 2.500 tahun yang lalu, Socrates telah berkata bahwa tujuan yang paling mendasar dari pendidikan adalah untuk membuat seseorang menjadi good and smart. Dalam sejarah Islam, sekitar 1.400 tahun yang lalu, Rasulullah Saw. juga menegaskan bahwa misi utama beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak. Berikutnya, ribuan tahun setelah itu, rumusan utama pendidikan pun masih tetap pada wilayah yang sama, yaitu pembentukan kepribadian manusia yang baik. Tokoh pendidikan Barat seperti Klipatrick dan Lickona kemudian menggemakan kembali gaung yang disuarakan Socrates dan Rasulullah, bahwa moral atau karakter adalah tujuan yang tidak bisa dihindarkan dari dunia pendidikan. Marthin Luther King bahkan mengatakan, “Intelegence plus character, that is the true aim of education” (Majid dan Andayani, 2010).

Namun, seiring dengan bergulirnya waktu dan bangkitnya logika positivisme yang menolak kebenaran metafisik serta kebenaran moral (benar atau salah), pendidikan moral dari pendidikan pun kemudian tenggelam. Begitu pun dengan logika relativitas moral (yang menganggap semua orang dan semua golongan benar tergantung kepada sudut pandang masing-masing), telah berpengaruh kepada paham personalisme dan pluralisme yang menyatakan setiap individu bebas untuk memilih nilai-nilainya sendiri. Sementara itu, sekularisasi masyarakat pun telah menumbuhkan ketakutan untuk mengajarkan moralitas di sekolah—karena khawatir dianggap sebagai pengajaran agama.

Kondisi tersebut akhirnya mengakibatkan pendidikan semakin terpuruk. Implikasinya, pendidikan kita belum berhasil mengangkat martabat bangsa dari keterpurukan nilai-nilai moral. Padahal, institusi-institusi pendidikan kita saat ini memiliki fasilitas yang cukup maju. Fenomena tersebut disebabkan visi dan misi pendidikan yang mengarah kepada terbentuknya manusia yang beradab sudah diabaikan dalam pendidikan.

Keterpurukan tersebut kemudian menyebabkan krisis nilai bangsa. Thomas Lickona, seorang profesor pendidikan dari Cortland University, telah mengungkapkan, ada sepuluh tanda zaman yang harus diwaspadai. Jika kesepuluh tanda tersebut telah ada, sebuah bangsa akan menuju kehancuran. Kesepuluh tanda tersebut adalah: (1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja (2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk (3) pengaruh peer group yang kuat dalam tindakan kekerasan (4) maraknya penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas, (5) semakin buruknya pedoman moral baik dan buruk (6) menurunnya etos kerja (7) semakin rendahnya rasa hormat terhadap orang tua dan guru (8) rendahnya tanggung jawab individu dan warga negara (9) membudayanya ketidakjujuran (10) adanya saling curiga dan kebencian antarsesama (Megawangi: 2004, 7-10).

Oleh karena itu, tujuan yang harus dicapai oleh pendidikan adalah hal yang bernilai. Karena, nilai berfungsi sebagai penggerak pendidikan. Ia seperti jantung yang memompa darah ke seluruh bagian tubuh. Dengan demikian, tujuan utama pendidikan adalah untuk menghasilkan kepribadian manusia yang matang secara intelektual, emosional, dan spiritual. Karena itulah, komponen esensial manusia adalah nilai (values) dan kebajikan (virtues, Sauri, 2010).

Dalam bukunya The Concept of Education in Islam (1980), Al-Attas menegaskan bahwa pendidikan harus mampu menanamkan kebaikan ataupun keadilan dalam diri manusia sebagai individu, bukan hanya sebagai seorang warga negara ataupun anggota mayarakat. Yang perlu ditekankan dalam pendidikan adalah nilai manusia sebagai manusia sejati, sebagai warga kota, sebagai warga negara dalam kerajaannya yang mikro, sebagai sesuatu yang bersifat spiritual. Dengan demikian, nilai manusia, bukanlah entitas fisik yang ditukar dalam konteks pragmatis dan utilitarian berdasarkan kegunaannya bagi negara, masyarakat, dan dunia.

Untuk itulah, adab dan akhlak yang menjadi ruh pendidikan harus dihidupkan kembali. Selain itu, pendidikan Islam pun harus mengisolir pandangan hidup sekular-liberal yang ada dalam setiap disiplin ilmu pengetahuan modern saat ini. Ketika perubahan secara islami (dalam kurikulum, lingkungan, visi, dan misi) terjadi, pendidikan Islam akan membebaskan manusia dari kehidupan sekular menuju kehidupan yang berlandaskan ajaran Islam. Dari pendidikan seperti itulah, manusia yang baik dan beradab akan lahir. Individu-individu seperti itu adalah manusia yang menyadari tanggung-jawabnya terhadap Tuhannya, memahami dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada dirinya dan yang lain dalam masyarakatnya, serta berupaya terus-menerus untuk mengembangkan setiap aspek dari dirinya menuju kemajuan sebagai manusia yang bermoral.

Namun, hal di atas tentu saja bukan pekerjaan yang mudah. Ia merupakan kerja berat yang memerlukan “skill tinggi”, terutama “skill” para pendidik. Secara sederhana, “skill” tersebut adalah adab. Dengan demikian, pendidikan Islam membutuhkan para pendidik yang memiliki kualitas adab yang tinggi. Sebab, bisa jadi, hilangnya adab dalam pendidikan (yang kemudian hanya melahirkan generasi-generasi lemah), akar penyebabnya ada dalam diri pendidik terlebih dahulu.

Pendidik yang memiliki adab adalah pendidik yang selaras ilmu dan amalnya serta ucapan dan perbuatannya. Hidupnya menjadi anutan karena ilmu dan amalnya yang selaras. Ia bagaikan ulama yang didaulat oleh Rasulullah sebagai pewaris ajaran para Nabi. Karena memiliki kualitas adab tinggi, pendidik yang seperti itu pun mampu mengidentifikasi tantangan-tantangan zaman dan memberikan bekal ilmu kepada anak didik untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut. Tentu saja, bekal yang dihadapi bukan hanya “bekal psikomotorik” yang melihat manusia dari sisi sekular saja. Sebab terbukti, bekal seperti itu hanya mengajarkan manusia untuk rakus terhadap dunia (al-wahn). Inilah akar permasalahan yang mengakibatkan pendidikan kita hanya melahirkan generasi yang tidak berakhlak. Tidak aneh jika narkoba, free sex, korupsi, tawuran, dan lain-lain tidak pernah hilang dari kehidupan masyarakat kita. Termasuk ketika perbuatan-perbuatan tersebut sering dilakukan oleh anak bangsa yang sedang dididik di tempat yang bernama pendidikan.

Menciptakan pendidikan yang penuh dengan nilai-nilai adab tentu saja bukan pekerjaan mudah. Terutama pada zaman sekarang ketika manusia telah dipenjara oleh tujuan-tujuan sekular. Namun, meskipun tidak mudah, ia adalah hal esensial yang harus dilakukan dalam pendidikan. Jika tidak dilakukan, praktik pendidikan yang kita lakukan hanya menyentuh kulit. Ia tidak akan pernah menyentuh ruh yang menjadi jantung pendidikan. Jika ruh pendidikan hilang, anak didik yang dibentuk dalam pendidikan pun akan menjadi manusia yang kehilangan ruh. Padahal, Al-Quran telah menjelaskan, jika ruh telah hilang, manusia tidak ubahnya bagaikan hewan. Bahkan, lebih hina daripada hewan. Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi Neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak digukan untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak digunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak digunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai (QS. 7:179). Wallahu a’lam bish-shawwab


Krisis Nilai Bangsa

Oleh: Arif Munandar Riswanto

 

Indonesia pada saat ini memang sedang mengalami krisis nilai (value crisis) yang begitu hebat. Padahal, konon katanya bangsa kita dahulu dikenal sebagai bangsa yang memiliki nilai-nilai luhur. Karena tatanan nilai yang dianut sedang rapuh, karakter dan watak bangsa ini pun mengalami kerapuhan. 34 Tahun yang lalu, yaitu pada tanggal 6 April 1977, dalam salah satu ceramah di Taman Ismail Marzuki (TIM), Mochtar Lubis pernah menyatakan bahwa sifat-sifat bangsa Indonesia adalah: (1). Munafik. (2). Tidak mau bertanggung jawab. (3). Berjiwa feodal. (4). Percaya takhayul. (5). Lemah karakter. (6). Boros (Jakarta, 2001: 18-35). Sebuah watak yang benar-benar mencitrakan bahwa tatanan nilai bangsa ini memang sedang keropos. Baca lebih lanjut

NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM SURAH LUQMAN AYAT 12-19

oleh : Gyan Puspa Lestari

Nilai berdasarkan arti denotatifnya dapat dimaknai sebagai harga. Namun ketika nilai dihubungkan dengan suatu objek atau sudut pandang tertentu, harga yang terkandung didalamnya memiliki pemaknaan yang bermacam-macam. Dalam kaitan dengan nilai pendidikan, maka mengandung arti konsep pendidikan menjadi bahan utama dalam pertimbangan nilai. Dengan demikian nilai pendidikan yang akan dikaji dalam tulisan ini adalah sesuatu yang berharga yang memiliki kaitan dan mendukung pemikiran dan pelaksanaan pendidikan khususnya dalam surah Luqman ayat 12-19.

Berdasarkan susunan mushaf utsman surah Luqman merupakan surah ke 31, terdiri dari 34 ayat, termasuk golongan surah-surah Makiyyah, dan diturunkan sesudah surah Ash-Shaffaat. Dinamai surah “Luqman” karena pada ayat 12 disebutkan bahwa “Luqman” telah diberi oleh Allah hikmah, oleh sebab itu dia bersyukur kepada-Nya atas nikmat yang diberikan itu. Dan pada ayat 13 sampai 19 terdapat nasihat-nasihat Luqman kepada anaknya. Baca lebih lanjut

Pendidikan yang Mengutamakan Akhlak

Oleh: Silmi Kapatan Inda Robby

 

Pendidikan adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Outcome dari sistem pendidikan adalah individu yang baik dan beradab, yang diyakini akan memberikan peran sebagai agent of change. Dari individu-individu itu diharapkan dapat melahirkan tatanan masyarakat yang baik dan beradab. Masyarakat yang mempunyai kadar intelektualitas dan spiritualitas yang tinggi.

Hal pertama yang harus dipahami dalam pendidikan adalah tujuan pendidikan dan karakteristik manusia. Sebab, ketidakpahaman terhadap tujuan pendidikan dan karakteristik manusia hanya akan menjadikan pendidikan sebagai sarana program trial and error. Hal tersebut akan menjadikan peserta didik sebagai kelinci percobaan. Pada gilirannya, dalam jangka panjang, hal tersebut akan mengancam eksistensi sebuah bangsa. Karena, generasi hasil pendidikan nasionalnya tidak mempunyai karakter yang kuat dan kepribadian yang tangguh.

Masyarakat yang dibentuk oleh nilai-nilai dan ideologi sekularistik-materialistik, misalnya, hanya akan melahirkan sumberdaya manusia (peserta didik) yang profit oriented. Mereka hanya berpikir keuntungan material semata. Hidup bagi mereka adalah perhitungan laba-rugi. Mereka selalu membawa “pembukuan” di benaknya dalam setiap interaksi sosial keseharian dengan manusia lainnya. Mereka adalah economic animal, hewan-hewan yang berkeliaran di pasar-pasar, di lantai bursa, dan di semua sudut kehidupan sambil membawa “kalkulator” untuk menghitung keuntungan hasil transaksi sosial mereka.

Di sini masyarakat harus mendorong pemerintah untuk merumuskan arah kebijakan pendidikan nasional tentang landasan worldview pendidikan. Standarisasi arah kebijakan pendidikan nasional ini untuk memastikan bahwa tujuan pendidikan nasional yang luhur itu memang bisa dicapai. Bukan angan-angan yang terlintas di awang-awang.

 

Membangun Keseimbangan

Semua negara tentu mempunyai rencana strategis dengan menjadikan pendidikan sebagai bagian dari prioritas pembangunan. Karena tempat paling tepat untuk membangun manusia adalah pendidikan.

Sulit dipungkiri bahwa paradigma pendidikan di Indonesia telah bergeser ke arah sistem materialistik-kapitalistik-sekularistik. Oleh sebab itu, tidak mengherankan kalau terjadi fenomena kemerosotan nilai-nilai moral dan spiritual di kalangan masyarakat Indonesia saat ini. Evaluasi hasil pendidikan dan indeks prestasi yang berupa angka-angka hanya akan melahirkan lulusan lembaga pendidikan yang berorientasi kerja, mencari uang, berkeluarga, untuk kemudian mati.

Lembaga pendidikan di Indonesia sebagian besar hanya menghasilkan lulusan yang tidak memiliki kesadaran kritis untuk menjadi manusia yang memiliki keluhuran budi, kekuatan akhlakul karimah, dan kemandirian. Yang muncul justru orang-orang yang rendah emosional spiritual. Meskipun mereka mempunyai kualitas yang tinggi dalam penguasaan iptek. Pendek kata, keberhasilan pendidikan saat ini tidak mampu membangun jati diri peserta didik sebagai generasi tangguh Indonesia, seperti yang diamanatkan dalam rumusan pasal 3 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Sekularisasi pendidikan ini telah dimulai sejak adanya dua kurikulum pendidikan yang dikeluarkan oleh dua kementerian (departemen) yang berbeda, yakni kemenag dan kemendiknas. Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan iptek berada di wilayah bebas nilai (value free) sehingga sama sekali tidak tersentuh standar nilai agama. Kalaupun ada ia hanya berupa etika atau moral yang tidak bersandar pada nilai agama, tetapi pada nilai-nilai hasil kesepakatan manusia yang relatif. Sementara pembentukan karakter peserta didik, yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan, justru kurang tergarap secara serius. Pendidikan yang materialistik memberikan kepada peserta didik suatu basis pemikiran yang serba terukur secara material serta memungkiri hal-hal yang bersifat non-material. Dan ini menjadi wilayah kerja kemendiknas.

Di lain pihak, urusan agama diserahkan kepada kemenag yang mengelola lembaga pendidikan berciri khas keagamaan, misalnya Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah. Tapi pada kenyataannya, lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola oleh kemenag pun menyandarkan hasil akhir proses pendidikan peserta didik pada angka, yang menjadi indikator penilaian yang paling valid, objektif, dan representatif bagi kecerdasan peserta didik.

Walhasil, dalam memperlakukan peserta didik, kemenag dan kemendiknas hanya berbeda ketika berangkat saja, sedangkan garis finish-nya hampir sama, yakni menjadikan angka sebagai indikator kelulusan. Bukan beriman dan bertakwa kepada Allah, dan berperilaku atau berakhlak mulia. Padahal, tiga poin itulah (iman, takwa, akhlak mulia) awal tujuan pendidikan nasional.

 

Adab sebagai Tujuan Pendidikan

Karena yang dididik dalam prkatik pendidikan adalah manusia, maka pertanyaan yang muncul adalah, “Manusia yang bagaimana, yang hendak dibentuk melalui pendidikan tersebut?”

Syed Muhammad Naquib Naquib al-Attas (1980: 48-52) menjelaskan bahwa tujuan pendidikan dalam Islam adalah menghasilkan manusia yang beradab (good man), yakni manusia yang bijak, yang mampu mengenali dan mengakui segala tata tertib realitas, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan keperiadaan-Nya.

Ahmad Marimba (1989: 39) berpendapat bahwa tujuan pendidikan dalam Islam secara umum adalah terbentuknya manusia yang berkepribadian muslim, yakni berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Sedangkan menurut Abdul Fattah Jalal (1988), tujuan umum pendidikan Islam adalah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah (‘abdullah) yang beribadah kepada-Nya.

Menjadikan peserta didik beradab merupakan sebuah keharusan. Hanya dengan adab-lah, karakter bangsa akan terbentuk sempurna. Manusia-manusia Indonesia akan menjadi insan kamil, yaitu manusia yang beraktivitas sesuai dengan fitrahnya.

Dalam pendidikan Islam, Nabi Muhammad adalah model insan kamil. Beliau sempurna dalam semua aspek insaniah-nya. Bukan hanya secara fisik saja beliau sempurna, tapi juga emosional dan spiritual. Inilah yang membuat akhlak beliau menjadi sangat mulia. Manusia kemudian didorong untuk meneladani beliau. Sebab, beliau telah dijadikan Allah sebagai uswatun hasanah, teladan yang paling baik bagi manusia. Dan, salah satu tugas utama beliau sebagai rasul adalah untuk menyempurnakan akhlak.

Pemahaman yang utuh seperti di atas seharusnya dipahami dengan baik oleh umat Islam. Dengan demikian, akhlak menjadi tujuan paling urgen dalam praktik pendidikan Islam. Dari pendidikan seperti itulah, akan lahir sosok-sosok ilmuwan pewaris para ajaran Nabi dan yang takut kepada Allah.

Menimbang Pendidikan Nasional Kita

Oleh: Agung Aditya Subhan

Sebelum masuk pada sesi pertanyaan, penulis tanyakan kepada Bapak Ibu semua, apakah akan ada pertanyaan atau pas?” ungkap seorang moderator kepada para hadirin, dengan mantap mereka menjawab, “Pas”, moderator pun langsung mengatakan, “Baik dengan demikian kita tutup saja acara ini …”

Demikian gambaran kondisi acara workshop yang bertajuk Manajemen Administrasi untuk Peningkatan Guru Madrasah yang dihadiri oleh sekitar 100 an Kepala Madrasah. Penulis yang berkesempatan hadir pada acara tersebut sudah menyiapkan bebearapa pertanyaan  untuk pemateri, namun setelah mendengar hal itu menjadi sangat kecewa dan heran. Dalam hati, penulis bertanya penuh kesal, mengapa sesi pertanyaan tadi harus dipertanyakan terlebih dahulu?! Bahkan hal itu pun diulangi lagi pada materi yang lain, dari empat orang pemateri yang menyampaikan materinya nyaris tidak ada pertanyaan dan terlihat memang seperti disetting untuk tidak ada pertanyaan, pada materi yang ketiga ada pertanyaan dari seorang peserta itupun karena sang pemateri yang meminta. Anehnya ketika pertanyaan itu diajukan, di tengah-tengah kumpulan peserta  tersebut ada seorang Ibu berdiri bertanya kepada penanya tersebut, “lama gak?”.

Bukan hanya masalah pertanyaan, ketika acara berlangsung, para peserta terlihat kurang respon dengan materi yang disampaikan, di antara mereka ada yang ngobrol sambil merokok, sibuk dengan handphone nya, bahkan terlihat jelas penulis melihat kurang lebih ada tiga orang yang membawa laptop, semuanya asik mengkases internet, satu di antara tiga orang tadi asyik bermain game, ada juga yang sedang searching di google.  Dalam hati penulis terus bertanya-tanya, kenapa ini terjadi di acara seperti ini? Padahal mereka adalah kepala madarasah, orang terpenting di institusi atau lembaga pendidikan, mungkin hanya 30 -40 persen yang memperhatikan materi yang sedang disampaikan. Dan yang lebih mengherankan, pada materi terakhir, suasana workshop tersebut sudah tidak kondusif, jangankan pertanyaan atau diskusi, ketika pemateri sedang menjelaskan materinya, di belakang ada yang berteriak “angpau-angpau (uang-pen) kapan dibagikan?”, ternyata setelah ada pembagian “angpau” sebagai ganti transport, baru  responnya berubah.

Ini kondisi realita dunia pendidikan kita, bagaimana para murid akan serius dalam belajar jika para guru bahkan kepala sekolahnya juga tidak memperhatikan ketika mereka mengikuti pelatihan. Seharusnya seorang guru apalagi kepala sekolah memberikan contoh yang baik dan mulia, dan itulah sebabnya para orang tua kita dulu menyebut seorang pendidik dengan “guru,” karena ia harus digugu dan ditiru. Tapi kenyataannya, melihat prilaku mereka, sungguh menggemaskan!

Belum lagi kasus Alif dan Siami yang melaporkan kejadian contek masal di salah satu sekolah dasar di Surabaya menjadi dibenci oleh para tetangga dan orang tua murid lainnya, bahkan konon Alif dan ibunya, Siami, diusir oleh para tetangganya karena melaporkan perbuatan contek masal tersebut, kontan hal ini membuat Menteri Pendidikan kita kebakaran jenggot. Ini benar-benar memalukan! Orang berbuat jujur malah dibenci bahkan diusir, sementara mereka yang jelas mencontek dibela, diselamatkan. Ini bukan mimpi atau cerita rakyat yang kebenarannya masih diragukan, ini kenyataan, kondisi riil dunia pendidikan kita.

Dua kasus di atas adalah potret dunia pendidikan kita. 66 tahun kita merdeka, selama itu pula sebenarnya melalui pendidikan kita telah memintarkan para koruptor, mencerdaskan para pencuri, memberi gelar kepada para penjahat. Pendidikan  kita belum menyadarkan mereka, belum membangun pribadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan seterusnya sebagaimana tujuan dari pendidikan nasional yang termaktub dalam Undang-Undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab II pasal 3.Maka tidak heran, jika banyak para politisi kita yang jelas tertuduh korupsi dan suap, dibiarkan kabur dan bersembunyi, atau dibebaskan dari tuntutan. Lalu apa yang salah? Bagaimana seharusnya?

Untuk menjawab pertanyaan pertama, penulis melihat ada dua hal yang mendasar, tereduksinya orientasi ilahiyah dalam pendidikan kita dan terjebak pada pragmatisme. Sedangkan untuk menjawab pertanyaan kedua, penulis memandang bahwa untuk mengubah kedua permasalahan mendasar tadi, Islam telah memiliki konsep yang jelas, bahkan hal itu telah terbukti ketika Islam berkuasa dan sempat menyebabkan bangkitnya semangat ilmu pengetahuan di dunia Barat yang ketika sedang mengalami The Dark Age.

Reduksi Orientasi Ilahiyah

Tereduksinya orientasi ilahiyah dalam dunia pendidikan nasional adalah faktor utama rusaknya dunia pendidikan kita saat ini. Sebab, pendidikan yang tidak diarahkan pada nilai-nilai luhur ilahiyah, hanya akan menghasilkan manusia-manusia yang serakah, mencari keuntungan untuk diri atau kelompoknya, atau istilah yang disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabat adalah Al-Wahn, yaitu cinta dunia dan  takut mati. Kini Al-Wahn bisa berbentuk cara pandang yang pragmatis, sehingga pendidikan lebih bernuansa bisnis, atau orang belajar hanya untuk mendapat pekerjaan sehingga dapat hidup layak. Tentang pragmatisme ini akan dijelaskan pada pembahasan berikutnya.

Salah satu indikasi tereduksinya orientasi Ilahiyah dalam system pendidikan nasional dapat kita lihat dari terjadinya kesenjangan antara tujuan pendidikan nasional dengan system evaluasinya.

Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 tahun 2003 bab II pasal 3 disebutkan bahwa pendidikan nasional kita, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Berdasarkan tujuan pendidikan nasional di atas jelas bahwa core value pembangunan karakter bangsa yang pertama berorientasi kepada upaya mengembangkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, jelaslah bahwa nilai Iman dan Takwa (IMTAK) merupakan nilai strategis dan di junjung tinggi oleh bangsa Indonesia sekaligus menjadi cita-cita pertama yang ingin diwujudkan melalui pelaksanaan pendidikan nasional.

Pada operasionalisasinya, pendidikan di Indoensia berbeda dari apa yang sudah digariskan dari tujuan pendidikan di atas. Coba perhatikan, jika yang menjadi pondasi pertama dalam tujuan pendidikan di negeri ini adalah manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan seterusnya, lalu kenapa materi ujian nasional yang menjadi standar kelulusan saat ini hanya pelajaran yang sifatnya mengembangkan aspek kognitif, seperti Matematika, IPA, Bahasa  Indonesia, dan yang lainya, sedangkan pelajaran agama tidak termasuk? Padahal jelas sekali dalam undang-undang yang disebutkan di atas tujan pendidikan nasional kita adalah menciptakan manusia beriman dan bertakwa dan seterusnya.

Untuk mencapai derajat tersebut tidak cukup dengan diuji kemampuan anak dalam mata pelajaran seperti Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, Bahasa Inggris, IPS. Itu semua hanya kemampuan pengantar yang bisa mengantarkan kepada manusia yang seperti disebutkan dalam undang-undang di atas.

Selain itu, pendidikan di Indonesia hanya dimaknai sebagai salah satu upaya untuk mendapatkan pekerjaan agar tidak menjadi pengangguran. Sehingga pemeritah mengembangkan sekolah kejuruan dengan harapan para siswa lulusannya dapat langsung bekerja dan pengangguran bisa berkurang. Ini sudah menyimpang dari tujuan pendidikan nasional yang menginginkan pendidikan mampu menciptakan manusia yang berkarakter utuh, dalam aspek afektif, kognitif, dan psikomotornya.

Sesungguhnya, pendidikan atau sekolah yang menyiapkan tenaga kerja siap pakai seperti SMK (sekolah Menengah Kejuruan) tidak sesuai dengan iklim Indonesia. Sebab, Indonesia bukan negara industri yang membutuhkan banyak tenaga kerja siap pakai seperti Jepang. Indonesia masih menjadi negara agraris.

Hal ini, disebabkan karena pendidikan di Indonesia mengabaikan nilai-nilai Ilahiyah dalam menjalankan pendidikan di negeri ini. Pendidikan yang ada saat ini hanya melihat dinamika yang tampak di permukaan, belum menyelami akar permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Karena itu, mengembalikan orientasi Ilahiyah dalam dunia pendidikan menjadi sangat penting untuk memperbaiki bangsa ini.

 

Pragmatisme dalam Dunia Pendidikan

Ketika nilai-nilai luhur Ilahiyah dalam dunia pendidikan sudah terkikis, yang ada hanya sebatas slogan dan bersifat formalitas, maka nilai-nilai lain yang akan mengisi orientasi pendidikan kita. Karena kehidupan dunia ini begitu banyak tuntutan dan kebutuhan yang harus dipenuhi, maka dalam rangka itulah dunia pendidikan saat ini dijalankan, sehingga pragmatisme muncul dan mengisi sebagai ganti dari hilangnya nilai-nilai Ilahiyah.

Maka tidak heran, jika orientasi dari lembaga-lembaga pendidikan saat ini terkesan pragmatis. Banyak institusi pendidikan telah berubah menjadi industri bisnis, yang memiliki visi dan misi yang pragmatis. Pendidikan diarahkan untuk meraih kesuksesan materi dan profesi sosial yang akan memakmuran diri, perusahaan dan Negara. Pendidikan dipandang secara ekonomis dan dianggap sebagai sebuah investasi. “Gelar” dianggap sebagai tujuan utama, ingin segera dan secepatnya diraih supaya modal yang selama ini dikeluarkan akan menuai keuntungan, demikian Armas mengungkapkan.

Kita bisa melihat saat ini, begitu banyak sekolah-sekolah yang menjanjikan mudah mendapatkan pekerjaan bagi para almuninya. Munculnya, sekolah kejuruan yang didirikan untuk menyiapkan siswa-siswa yang siap bekerja. Ini sebagai indikasi merajalelanya pragmatisme di dunia pendidikan kita. Bukan berarti pendidikan kejuruan tidak dibenarkan, tapi ketika seseorang belajar diniatkan untuk mendapat pekerjaan, maka ini akan membahayakan pendidikan nasional kita. Sebab, pendidikan semacam itu pada akhirnya hanya akan melahirkan manusia-manusia yang siap bekerja tetapi tidak siap bermasyarakat, takut rugi, hanya mencari keuntungan sendiri dan kelompoknya, yang pada akhirnya sifat al-wahn sebagaimana diramalkan Rasulullah SAW mengakar kuat di hati mereka.

Selain itu, pendidikan yang hanya mengembangkan keahlian khusus dan berorientasi kerja, akan tidak akan melahirkan para saintis melainkan memperbanyak manusia-manusia berjiwa pekerja. Selain itu, saat ini banyak sekali para para ilmuwan yang hanya mengedepankan keilmuannya masing-masing, sehingga mereka buta terhadap ilmu-ilmu yang lain. Inilah yang kemudian juga disesalkan oleh Fritjof Capra seorang saintis kenamaan Barat. Ia mengungkapkan dalam bukunya yang berjudul “Titik Balik Peradaban; Sains, Masyarakat dan Kebangkitan Kebudayaan”, bahwa saat ini ahli-ahli dalam berbagai bidang tidak lagi mampu menyelesaikan masalah-masalah mendesak yang muncul dalam bidang keahlian mereka. Para ekonom tidak mampu lagi memahami inflasi, Onkolog bingung tentang penyebab kanker, psikiater dikacaukan oleh schizofrenia, polisi semakin tidak berdaya oleh semakin tingginya tingkat kriminalitas.Ia menambahkan bahwa sebagian besar akademisi menganut persepsi-persepsi realitas yang sempit yang tidak cukup untuk menyelesaikan masalah-masalah besar pada zaman ini yang merupakan masalah sistemik, artinya, persoalan tersebut saling berhubungan dan saling bergantung. Problematika tersebut tidak lagi dapat dipahami dalam metodologi yang terpecah-pecah  yang merupakan karekteristik disiplin akademik dan ciri badan pemerintah.

 

Tidak luput pula dengan konsep Sekolah Islam Terpadu. Saat ini begitu menjamur di mana-mana, namun nyatanya sekolah-sekolah tersebut hanya berlaku bagimereka yang siap modal, cukup bekal, sedangkan mereka yang siap secara kemampuan intelegensi tapi lemah dalam “saku” harus bertaruh dengan para “pemborong.”

Para guru, mereka mengajar hanya sebatas melaksanakan tugas, ketika ada kegiatan di luar jadwalnya, maka mereka akan menghitung keuntungannya terlebih dahulu. Begitupula para pelajar atau mahasiswanya, mereka belajar supaya memperoleh pekerjaan yang layak. Sehingga  pendidikan menjadi komoditi, yang harus dibungkus dengan berbagai aksesoris, namun substansinya tetap bahkan lebih buruk. Akibatnya, nilai-nilai Ilahiyah dan nilai-nilai orisinalitas wahyu menjadi buyar dan manusia bukan semakin meningkat keimanannya ketika belajar semakin tinggi, melainkan justeru alergi dengan agama.

Dengan demikian nilai-nilai Ilahiyah ini menjadi sangat penting di dalam dunia pendidikan untuk membimbing para peserta didik maupun para gurunya mengenal lebih dekat dengan Allah.

Konsep Pendidikan dalam Islam

Konsep pendidikan menurut Islam berbeda dengan konsep pendidikan menurut para tokoh Barat. Hal ini dikarenakan cara pandang (worldview) yang berbeda. Sebab, Barat pada zaman modern ini memandang realitas hanya sebatas materi, atau mereka melihat dunia ini digambarkan dengan mekanisme. Artinya dunia ini seperti mesin, bagi yang atheis mesin itu ada dengan sendirinya, tapi bagi mereka yang non atheis mesin itu diciptakan. Namun, di Barat, peran pencipta direduksi, sehingga lama kelamaan peran Sang Pencipta tidak diakui bahkan ditiadakan. Maksudnya, Barat memahami dunia ini seperti mesin, dulu diciptakan dan sekarang mesin itu berjalan sendiri, tidak ada campur tangan pencipta mesin itu, bahkan banyak yang tidak mengakui bahwa mesin tersebut ada yang menciptakannya.

Faham mekanisme ini menggeser faham organisme tentang dunia yang dipegang oleh gereja, bahkan faham ini menguasai alam pikiran Barat modern saat ini. Paradigma positivisme dan empirisme dalam sains Barat menjadi subur. Otoritas memahami dunia, kini berpindah dari gereja ke tangan saintis. Benar-salah, baik-buruk tidak perlu campur tangan Tuhan. Wahyu dikalahkan akal atau diganti dengan akal.

Sehingga, dalam memandang pendidikan pun, Barat meniadakan peran Tuhan. Berbeda dengan Islam, pendidikan tidak sekadar mencerdaskan manusia dari yang tidak tahu menjadi tahu, tapi dalam Islam pendidikan harus sampai pada mengetahui posisinya sebagai hamba dan mengakui keberadaan serta peran Sang Maha Pencipta.

Barat memandang realitas secara filosofis-saintifik semata dan bersifat empirical sehingga terjadi dikotomi sakral-profan, akhirat-dunia, dan Mutlak-relatif yang berakibat pada dualism kebenaran, kepribadian, dan masyarakat. Sementara Islam memandang hakikat realitas berdasarkan wahyu yang dipaykini dari Tuhan. Worldview Islam yang didasarkan atas landasan Wahyu merupakan pandangan metafisika tentang yang terindera maupaun yang tidak terindera oleh manusia dan mencakup pandangan tentang hidup secara keseluruhan.

Begitupula tentang hakikat manusia, Islam memandang manusia secara utuh. Tidak dipisahkan antara jiwa dan raga, antara idea dan realnya sebagaimana termaktub dalam surat Al-Hijr ayat 29, “Maka apabila Aku telah menyepurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepada-Nya dengan bersujud.” Ayat ini pun sekaligus menjelaskan posisi manusia dengan Allah. Karenanya, dalam Islam penting sekali mengetahui dan mengakui posisi dan eksistensi Tuhan. Karena itu, dalam surat Al-A’raf ayat 172 Allah mengambil persaksian setiap manusia.

Sedangkan kajian pengetahuannya, para sarjana muslim, dalam investigasi keilmuan, tidak mengenal dikotomi metode berpikir atau sekulerisasi dalam ilmu seperti yang dikenal dalam sejarah pemikiran Barat. Menurut Al-Attas, ilmu dalam pandangan Islam tidak dapat didefinisikan, artinya kata ilmu dalam Islam mencakup segala hal. Ilmu itu bisa berarti Kitab Suci Al-Qur’an, syari’ah, iman, hikmah, ma’rifah, bisa juga difahami sebagai sains, pemikiran, pendidikan atau yang lainnya. Semua ilmu dalam pandangan Islam datang dari Allah. Untuk tujuan pengklasfikasian dalam tindakan kita ilmu dalam Islam dapat difahami ke dalam dua jenis, yang satu merupakan hidangan untuk membekali jiwa manusia itu sendiri dan yang kedua merupakan bekal manusia di dunia dalam rangka mengejar tujua-tujuan pragmatisnya. Jenis pertama ini diberikan oleh Allah melalui wahyu-Nya, dan merujuk kepada Al-Qur’an dan ilmu-ilmu yang merujuk kepadanya. Ilmu ini dapat membimbing dan menyelamatkan manusia. Sedangkan jenis yang kedua yang merujuk kepada ilmu-ilmu sains yang diperoleh melalui pengalaman, pengamatan dan penelitian. Ilmu jenis pertama diberikan oleh Allah melalui firman-firman-Nya, sedangkan yang kedua dapat diperoleh melalui spekulasi, usaha penyelidikan rasional dan didasarkan atas pengalamannya tentang segala sesuatua yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia serta dapat difahami oleh akal manusia. Masih menurut Al-Attas, dalam Islam, berdasarkan sudut pandang manusia ilmu itu harus diperoleh melalui ‘amal. Ilmu dan amal sangat berkaitan dalam Islam. Ilmu jenis pertama merupakan prasayarat untuk ilmu jenis kedua. Sebab, ilmu yang kedua ini jika tidak didasari ilmu yang pertama, maka ilmu kedua ini tidak akan membimbing manusia dengan benar dalam kehidupannya.

Karena itu, Al-Ghazali menghukumi fardlu ‘ain kepada ilmu yang dapat mengantarkan manusia bertauhid secara benar, mengetahui eksistensi Allah, status-Nya, dan sifat-sifat-Nya, termasuk ilmu yang dapat menyebabkan manusia mengetahui tata cara beribadah kepada Allah dengan benar, serta bermuamalah dengan syari’ah Islam. Sedangkan ilmu jenis kedua seperti diungkapkan di atas, yakni ilmu yang membekali manusia untuk kehidupan di dunia, ia menghukuminya dengan fardlu kifayah.

Ketika berbicara nilai, Islam meyakini bahwa segala hal yang datang dari Allah dan Rasul-nya bersifat absolute, tidak bisa diganggu gugat. Nilai kebenaran ini akan membimbing manusia pada jalan yang benar. Baik dan buruk harus berdasarkan baik menurut yang absolute, sebab bila tidak, maka akan terjadi relatifitas kebenaran yang kemudian membingungkan manusia, sebab tidak ada standar yang pasti.

Dengan demikian, pendidikan dalam Islam bertujuan tidak hanya berorientasi pragmatis, bahkan lebih dari itu, Islam memandang pendidikan juga berorientasi ukhrawi. Seperti apa yang dikemukakan Al-Ghazali bahwa tujuan pendidikan mencakup tiga aspek; keilmuan, kerohanian, dan ketuhanan. Pada aspek ketuhanan, menurut Al-Ghazali bertujuan agar mendapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Begitu pula Al-Attas mendefinisikan pendidikan dengan recognition and acknowledgement of the proper places of things in the order of creation, such that it leads to the recognition and acknowledgement of the proper place of God in the order of being and existence.” Artinya, pengenalan dan pengakuan, yang secara berangsur-angsur ditanamkan di dalam manusia, tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan eksistensi.

Dari pengertian tersebut, dapat kita pahami pada akhirnya pendidikan harus mengenal dan mengakui Tuhan pada posisi yang tepat di antara realitas yang ada. Artinya hakikat pendidikan dalam Islam selain mengenal segala hal yang ada di dunia, juga harus mengenal Tuhannya dengan baik. Dengan demikian, seorang manusia merangkap sebagai pelajar, pendidik, sekaligus sebagai hamba Tuhan yang memiliki hak dan kewajibannya. Demikian pula pendidikan nasional seharusnya, supaya tercipta amnesia yang taat kepada aturan Sang Pencipta yang pada akhirnya juga dapat menuntut pada ketaatan Negara. Waalhu A’lam

Baitul Hikmah

Oleh: Arif Munandar Riswanto

 Seluruh orang tahu bahwa umat Islam pernah mengalami kejayaan peradaban. Baghdad dan Andalusia (Cordoba) adalah contoh paling nyata kegemilangan tersebut. Kegemilangan tersebut terjadi karena umat Islam mampu membangun tradisi ilmu yang kuat. Dari tradisi ilmu-lah, umat Islam mampu tampil menjadi pemimpin peradaban dunia. Dan, salah satu tempat tradisi ilmu yang dibangun oleh umat Islam adalah perpustakaan.

Pada masa Abbasiyyah, Baghdad adalah menara ilmu pengetahuan. Di sanalah berdiri perpustakaan yang sangat megah. Kelak, perpustakaan tersebut dikenal dengan Baitul Hikmah.  Kondisi tentang Baitul Hikmah telah ditulis dengan sangat baik oleh Dr. Khidhr Ahmad Athallah, dalam bukunya yang berjudul Bait Al-Hikmah fi ‘Ashr Al-‘Abbasiyyin (Kairo: Dar Al-Fir Al-‘Arabi). Buku yang pada asalnya berupa disertasi tersebut menjelaskan dengan detil bagaimana Baitul Hikmah benar-benar telah membuat peradaban Islam menjadi peradaban yang disegani oleh seluruh bangsa.

Baitul Hikmah pertama kali dibangun oleh Harun Ar-Rasyid. Usaha Ar-Rasyid tersebut kemudian diteruskan oleh anaknya, Al-Makmun. Pada waktu itu, Baitul Hikmah adalah bangunan yang terdiri dari berbagai ruangan. Setiap ruangan terdiri dari tempat buku (khazanah) yang diberi nama sesuai nama pendirinya—seperti Khazanah Ar-Rasyid dan Khazanah Al-Makmun. Bangunan yang menyatu dengan istana khalifah itu pun memiliki berbagai divisi. Ada divisi untuk menyimpan buku, menerjemah, mencetak, menulis, menjilid, dan meneliti. Singkatnya, Baitul Hikmah benar-benar menjadi tempat ilmu pengetahuan yang sangat berharga.

Bahkan, dalam perjalanannya, tempat tersebut bukan hanya berupa “gudang” buku—sebagaimana terjadi pada perpustakaan zaman sekarang, tetapi berubah menjadi universitas (al-jami’ah). Dari tempat tersebut, lahir berbagai riset dan karya ilmiah yang sangat berharga. Bahkan, tempat tersebut pun menjadi tempat observasi bintang.

Baitul Hikmah akhirnya menjadi tempat berkumpul para peneliti, ilmuan, serta pencari ilmu dari berbagai tempat dan berbagai negara. Ibnu Sina, Ibnu Nadim, Abu Yusuf, Al-Baladzari, dan lain-lain adalah ilmuwan-ilmuwan besar yang “meramaikan” Baitul Hikmah.

Bahkan, Baitul Hikmah kemudian menjadi tempat berkumpulnya bermacam-macam profesi. Dari mulai ilmuwan, tukang cetak, sampai tukang jilid berkumpul di sana. Tentu saja, aktivitas tersebut akan menciptakan sebuah industri. Bahkan, dari sinilah, umat Islam menjadi pencetus industri kertas dan percetakan.

Berbagai cabang ilmu—filsafat, kedokteran, matematika, astronomi, sejarah, geografi, musik, ilmu kalam, mantik, kimia, dan lain-lain—dipelajari di Baitul Hikmah. Para mahasiswa yang telah mempelajari ilmu-ilmu tersebut dianggap sebagai sarjana yang telah lulus dari Perguruan Tinggi.

Para guru yang mengajar di sana pun mengenakan pakaian khusus. Abu Yusuf kemudian memberikan saran agar para guru memakai sorban hitam dan pakaian luar (thailasan) seperti toga. Akhirnya, semenjak itu, pakaian tersebut menjadi simbol dosen-dosen yang mengajar di Baitul Hikmah. Dari keadaan yang seperti itu kita bisa mengukur sejauh mana kualitas dan peran penting Baitul Hikmah.

Aktivitas penerjemahan dari bahasa-bahasa non-Arab kepada bahasa Arab betul-betul mencapai puncaknya. Berbagai cabang ilmu yang ditulis dalam bahasa Persia, Yunani, Syriac, Sansakerta, dan lain-lain diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Dari aktivitas pernerjemahan itulah, karya-karya intelektual banyak diselamatkan. Umat Islam menjadi aktor utama dalam proses penyelamatan tersebut. Bahkan, untuk merealisasikan usaha tersebut, Al-Makmun membuat sekolah yang khusus melahirkan lulusan-lulusan penerjemahan. Sahal bin Harun adalah direktur sekolah tersebut.

Selain hal-hal di atas, Baitul Hikmah pun berfungsi sebagai tempat untuk berdiskusi dan berdebat. Berbagai cabang ilmu didiskusikan di sana. Bahkan, karena banyak non-muslim yang datang, Baitul Hikmah pun menjadi tempat berdebat dan berdiskusi tentang masalah-masalah teologis dalam agama. Seluruh diskusi dan debat tersebut dilakukan dalam iklim yang sangat ilmiah dan toleran.

Keadaan seperti itu ditambah dengan perhatian khalifah yang sangat besar terhadap ilmu. Bahkan, jika Al-Makmun membuat perjanjian dengan raja-raja Romawi,  hal pertama yang menjadi syarat perjanjian Al-Makmun adalah agar raja-raja tersebut mengirimkan buku-buku kepadanya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Makmun kepada Michael III, raja Romawi ketika itu. Atas permintaan Al-Makmun, raja tersebut pernah mengirimkan seluruh koleksi buku yang ada di Konstantinopel. Di antara tumpukan buku tersebut ada buku Ilmu Astronomi karya Ptolemy. Melihat buku tersebut, Al-Makmun kemudian memerintahkan untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab. Di antara para penerjemah terkenal ketika itu adalah, Al-Hasan bin Sahal, Ahmad bin Yahya bin Jabir Al-Baladzari, Abu Hafsh Umar bin Al-Farkhan Ath-Thabari, Al-Hajjaj bin Yusuf bin Mathar, Hunain bin Ishaq.

Buku-buku yang ada di Baitul Hikmah kemudian menjadi referensi utama para ilmuwan Muslim. Ketika menulis master piece-nya, Al-Fihrist, Ibnu Nadim menjadikan buku-buku yang ada di Baitul Hikmah sebagai referensi. Hal tersebut dibuktikan ketika dia menulis tentang Al-Qalam Al-Humairi di dalam Al-Fihrist.

Ilmu adalah hal yang menyebabkan umat Islam dihormati dan disegani oleh masyarakat dunia. Karena ilmu, umat Islam menjadi umat yang mampu membangun peradaban tinggi. Dan, tempat ilmu paling ideal adalah perpustakaan.

Kegiatan yang dilakukan oleh Baitul Hikmah pasti membutuhkan dana yang tidak sedikit. Terlebih lagi, Baitul Hikmah menjadi tempat berkumpulnya para ilmuwan nomor satu. Lalu, berapa “gaji” yang diterima oleh seluruh elemen yang meramaikan Baitul Hikmah?

Menurut Dr. Khidhr Ahmad Athallah, pegawai-pegawai yang bekerja sebagai pengangkut buku-buku saja digaji sebesar lima ratus dinar setiap bulan. Sedangkan para pencetak buku diberi gaji sebesar dua ribu dinar. Bayaran lebih besar diterima oleh para penerjemah. Untuk para penerjemah, Al-Makmun selalu menimbangnya dengan mas. Bahkan, bukan hanya berupa materi, Al-Makmun pun kemudian menyerahkan beberapa anaknya untuk dididik dan diajar langsung oleh para ilmuwan yang ada pada saat itu. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa ada kedekatan antara penguasa dan ilmuwan.

 

Perpustakaan Umat Islam Masa Kini

Jika perpustakaan memiliki peran yang sangat penting dalam membangun peradaban, kita harus bertanya, apakah pada zaman sekarang umat Islam sudah memiliki perhatian yang sangat besar terhadap perpustakaan? Persis seperti yang dilakukan oleh umat Islam pada zaman kegemilangan peradaban?

Saya kira, semua orang tahu, bahwa pada zaman sekarang, umat Islam tidak memiliki perhatian yang sangat besar terhadap perpustakaan. Jika kita melihat seluruh institusi pendidikan yang digarap oleh umat Islam—dari mulai tingkat dasar sampai tingkat tinggi—hampir seluruh perpustakaan berupa bangunan yang tidak terawat. Ironisnya, masih banyak lembaga pendidikan Islam yang tidak memiliki perpustakaan. Kalaupun memiliki perpustakaan, biasanya ia menjadi tempat yang paling tidak terawat. Posisinya ada di lokasi paling ujung, ruangannya berantakan, pintunya jarang dibuka, dan debu ada di mana-mana. Akibatnya, ia menjadi tempat yang paling jarang dikunjungi. Keadaan seperti itu belum ditambah dengan koleksi buku yang sangat minim. Dengan demikian, bagaimana mungkin umat Islam akan maju jika perhatian terhadap ilmu masih kurang. Jangankan membaca karya-karya besar para ulama, untuk sekadar menyentuh dan mengenal judulnya saja, kita sudah sangat abai.

Hal yang lebih memprihatinkan adalah ketika kondisi tersebut justru harus terjadi di Perguruan Tinggi Islam. Sudah menjadi rahasia umum jika hampir seluruh Perguruan Tinggi Islam tidak pernah memerhatikan pentingnya perpustakaan. Hal yang sering diperhatikan oleh Perguruan Tinggi justru masalah bangunan fisik. Ia masih berlomba-lomba untuk membuat bangunan fisik yang megah. Namun, ketika melihat perpustakaan, kondisinya masih sangat memprihatinkan.

Ketika bergelut dalam dunia pendidikan, umat Islam pun masih sering dibuat pusing untuk membangun kelas dan sarana-sarana sekunder lainnya. Padahal, selama ada guru dan ilmu, belajar bisa dilakukan di mana saja—sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama dahulu. Terlebih lagi, kelas biasanya digunakan hanya beberapa jam. Selebihnya, ia akan ditinggalkan menjadi ruangan kosong.

Padahal, jika melihat Baitul Hikmah, tradisi pertama yang dibangun adalah tradisi ilmu—bukan bangunan fisik. Bahkan, ketika Baitul Hikmah telah berubah menjadi pusat ilmu, secara otomatis ia menjadi universitas. Dari perpustakaan-lah universitas kemudian berdiri. Berbeda dengan zaman sekarang, perpustakaan justru harus berdiri jika lembaga pendidikan telah berdiri terlebih dahulu. Bahkan, yang lebih memprihatinkannya, banyak universitas yang sudah berdiri puluhan tahun tapi tidak pernah memiliki perpustakaan.

Keadaan seperti itu belum ditambah dengan mental umat Islam yang kurang menyimpan perhatian besar terhadap buku dan ilmu. Pada tahun 1995, Universitas Indonesia (UI) pernah membuat tim untuk melakukan penelitian tentang naskah-naskah Arab Melayu. Penelitian tersebut menemukan ada sekitar 20% dari 1500 naskah beraksara Arab Melayu di Kesultanan Cirebon hancur untuk kemudian tidak bisa dimanfaatkan lagi. Sedangkan di Kesultanan Yogya, ada sekitar 10% naskah kuno Arab-Jawa rusak. Padahal pada masa lalu, bahasa Arab-Melayu adalah bahasa pendidikan dan literasi. Bahasa tersebut kemudian menjadi salah satu bahasa Islam terbesar dan menjadi faktor yang menyatukan kepulauan nusantara.

Fenomena tersebut kemudian diperburuk dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang sering menjual-belikan naskah-naskah para ulama. Oman Fathurahman, Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), pernah menulis di Harian Republika (11/11/2011), bahwa perdagangan naskah-naskah para ulama nusantara ke perpustakaan-perpustakaan Barat adalah “hal lumrah” yang sering terjadi. Oman, misalnya, pernah diajak oleh Annabel Teh Gallop, kepala koleksi Asia Tenggara, untuk melihat belasan manuskrip asal Aceh yang baru dibeli tahun 2004 oleh British Library dari sebuah toko buku antik di London, Arthur Probsthain. Ketika melihat naskah-naskah tersebut, Oman sangat terkejut. Karena, naskah-naskah tersebut adalah manuskti-manuskrip penting dan tidak pernah ada dalam katalog manuskrip nusantara.

Jika ingin maju dan disegani oleh masyarakat dunia, umat Islam harus membangun tradisi ilmu yang canggih. Karena dari tradisi ilmu ala Islam-lah, umat Islam akan mampu berdiri tegak menunjukkan rasa percaya dirinya (‘izzah) di hadapan masyarakat dunia. Namun, yang sekarang terjadi justru bukan seperti itu. Umat Islam selalu merasa rendah diri (inferior) di hadapan gempuran ilmu-ilmu yang datang dari Barat. Kondisi seperti itu diperburuk lagi dengan minimnya perhatian umat Islam untuk membangun tradisi ilmu. Tidak aneh, jika kemudian peradaban Islam menjadi peradaban yang tidak gemilang. Wallahu a’lam