Baitul Hikmah

Oleh: Arif Munandar Riswanto

 Seluruh orang tahu bahwa umat Islam pernah mengalami kejayaan peradaban. Baghdad dan Andalusia (Cordoba) adalah contoh paling nyata kegemilangan tersebut. Kegemilangan tersebut terjadi karena umat Islam mampu membangun tradisi ilmu yang kuat. Dari tradisi ilmu-lah, umat Islam mampu tampil menjadi pemimpin peradaban dunia. Dan, salah satu tempat tradisi ilmu yang dibangun oleh umat Islam adalah perpustakaan.

Pada masa Abbasiyyah, Baghdad adalah menara ilmu pengetahuan. Di sanalah berdiri perpustakaan yang sangat megah. Kelak, perpustakaan tersebut dikenal dengan Baitul Hikmah.  Kondisi tentang Baitul Hikmah telah ditulis dengan sangat baik oleh Dr. Khidhr Ahmad Athallah, dalam bukunya yang berjudul Bait Al-Hikmah fi ‘Ashr Al-‘Abbasiyyin (Kairo: Dar Al-Fir Al-‘Arabi). Buku yang pada asalnya berupa disertasi tersebut menjelaskan dengan detil bagaimana Baitul Hikmah benar-benar telah membuat peradaban Islam menjadi peradaban yang disegani oleh seluruh bangsa.

Baitul Hikmah pertama kali dibangun oleh Harun Ar-Rasyid. Usaha Ar-Rasyid tersebut kemudian diteruskan oleh anaknya, Al-Makmun. Pada waktu itu, Baitul Hikmah adalah bangunan yang terdiri dari berbagai ruangan. Setiap ruangan terdiri dari tempat buku (khazanah) yang diberi nama sesuai nama pendirinya—seperti Khazanah Ar-Rasyid dan Khazanah Al-Makmun. Bangunan yang menyatu dengan istana khalifah itu pun memiliki berbagai divisi. Ada divisi untuk menyimpan buku, menerjemah, mencetak, menulis, menjilid, dan meneliti. Singkatnya, Baitul Hikmah benar-benar menjadi tempat ilmu pengetahuan yang sangat berharga.

Bahkan, dalam perjalanannya, tempat tersebut bukan hanya berupa “gudang” buku—sebagaimana terjadi pada perpustakaan zaman sekarang, tetapi berubah menjadi universitas (al-jami’ah). Dari tempat tersebut, lahir berbagai riset dan karya ilmiah yang sangat berharga. Bahkan, tempat tersebut pun menjadi tempat observasi bintang.

Baitul Hikmah akhirnya menjadi tempat berkumpul para peneliti, ilmuan, serta pencari ilmu dari berbagai tempat dan berbagai negara. Ibnu Sina, Ibnu Nadim, Abu Yusuf, Al-Baladzari, dan lain-lain adalah ilmuwan-ilmuwan besar yang “meramaikan” Baitul Hikmah.

Bahkan, Baitul Hikmah kemudian menjadi tempat berkumpulnya bermacam-macam profesi. Dari mulai ilmuwan, tukang cetak, sampai tukang jilid berkumpul di sana. Tentu saja, aktivitas tersebut akan menciptakan sebuah industri. Bahkan, dari sinilah, umat Islam menjadi pencetus industri kertas dan percetakan.

Berbagai cabang ilmu—filsafat, kedokteran, matematika, astronomi, sejarah, geografi, musik, ilmu kalam, mantik, kimia, dan lain-lain—dipelajari di Baitul Hikmah. Para mahasiswa yang telah mempelajari ilmu-ilmu tersebut dianggap sebagai sarjana yang telah lulus dari Perguruan Tinggi.

Para guru yang mengajar di sana pun mengenakan pakaian khusus. Abu Yusuf kemudian memberikan saran agar para guru memakai sorban hitam dan pakaian luar (thailasan) seperti toga. Akhirnya, semenjak itu, pakaian tersebut menjadi simbol dosen-dosen yang mengajar di Baitul Hikmah. Dari keadaan yang seperti itu kita bisa mengukur sejauh mana kualitas dan peran penting Baitul Hikmah.

Aktivitas penerjemahan dari bahasa-bahasa non-Arab kepada bahasa Arab betul-betul mencapai puncaknya. Berbagai cabang ilmu yang ditulis dalam bahasa Persia, Yunani, Syriac, Sansakerta, dan lain-lain diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Dari aktivitas pernerjemahan itulah, karya-karya intelektual banyak diselamatkan. Umat Islam menjadi aktor utama dalam proses penyelamatan tersebut. Bahkan, untuk merealisasikan usaha tersebut, Al-Makmun membuat sekolah yang khusus melahirkan lulusan-lulusan penerjemahan. Sahal bin Harun adalah direktur sekolah tersebut.

Selain hal-hal di atas, Baitul Hikmah pun berfungsi sebagai tempat untuk berdiskusi dan berdebat. Berbagai cabang ilmu didiskusikan di sana. Bahkan, karena banyak non-muslim yang datang, Baitul Hikmah pun menjadi tempat berdebat dan berdiskusi tentang masalah-masalah teologis dalam agama. Seluruh diskusi dan debat tersebut dilakukan dalam iklim yang sangat ilmiah dan toleran.

Keadaan seperti itu ditambah dengan perhatian khalifah yang sangat besar terhadap ilmu. Bahkan, jika Al-Makmun membuat perjanjian dengan raja-raja Romawi,  hal pertama yang menjadi syarat perjanjian Al-Makmun adalah agar raja-raja tersebut mengirimkan buku-buku kepadanya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Makmun kepada Michael III, raja Romawi ketika itu. Atas permintaan Al-Makmun, raja tersebut pernah mengirimkan seluruh koleksi buku yang ada di Konstantinopel. Di antara tumpukan buku tersebut ada buku Ilmu Astronomi karya Ptolemy. Melihat buku tersebut, Al-Makmun kemudian memerintahkan untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab. Di antara para penerjemah terkenal ketika itu adalah, Al-Hasan bin Sahal, Ahmad bin Yahya bin Jabir Al-Baladzari, Abu Hafsh Umar bin Al-Farkhan Ath-Thabari, Al-Hajjaj bin Yusuf bin Mathar, Hunain bin Ishaq.

Buku-buku yang ada di Baitul Hikmah kemudian menjadi referensi utama para ilmuwan Muslim. Ketika menulis master piece-nya, Al-Fihrist, Ibnu Nadim menjadikan buku-buku yang ada di Baitul Hikmah sebagai referensi. Hal tersebut dibuktikan ketika dia menulis tentang Al-Qalam Al-Humairi di dalam Al-Fihrist.

Ilmu adalah hal yang menyebabkan umat Islam dihormati dan disegani oleh masyarakat dunia. Karena ilmu, umat Islam menjadi umat yang mampu membangun peradaban tinggi. Dan, tempat ilmu paling ideal adalah perpustakaan.

Kegiatan yang dilakukan oleh Baitul Hikmah pasti membutuhkan dana yang tidak sedikit. Terlebih lagi, Baitul Hikmah menjadi tempat berkumpulnya para ilmuwan nomor satu. Lalu, berapa “gaji” yang diterima oleh seluruh elemen yang meramaikan Baitul Hikmah?

Menurut Dr. Khidhr Ahmad Athallah, pegawai-pegawai yang bekerja sebagai pengangkut buku-buku saja digaji sebesar lima ratus dinar setiap bulan. Sedangkan para pencetak buku diberi gaji sebesar dua ribu dinar. Bayaran lebih besar diterima oleh para penerjemah. Untuk para penerjemah, Al-Makmun selalu menimbangnya dengan mas. Bahkan, bukan hanya berupa materi, Al-Makmun pun kemudian menyerahkan beberapa anaknya untuk dididik dan diajar langsung oleh para ilmuwan yang ada pada saat itu. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa ada kedekatan antara penguasa dan ilmuwan.

 

Perpustakaan Umat Islam Masa Kini

Jika perpustakaan memiliki peran yang sangat penting dalam membangun peradaban, kita harus bertanya, apakah pada zaman sekarang umat Islam sudah memiliki perhatian yang sangat besar terhadap perpustakaan? Persis seperti yang dilakukan oleh umat Islam pada zaman kegemilangan peradaban?

Saya kira, semua orang tahu, bahwa pada zaman sekarang, umat Islam tidak memiliki perhatian yang sangat besar terhadap perpustakaan. Jika kita melihat seluruh institusi pendidikan yang digarap oleh umat Islam—dari mulai tingkat dasar sampai tingkat tinggi—hampir seluruh perpustakaan berupa bangunan yang tidak terawat. Ironisnya, masih banyak lembaga pendidikan Islam yang tidak memiliki perpustakaan. Kalaupun memiliki perpustakaan, biasanya ia menjadi tempat yang paling tidak terawat. Posisinya ada di lokasi paling ujung, ruangannya berantakan, pintunya jarang dibuka, dan debu ada di mana-mana. Akibatnya, ia menjadi tempat yang paling jarang dikunjungi. Keadaan seperti itu belum ditambah dengan koleksi buku yang sangat minim. Dengan demikian, bagaimana mungkin umat Islam akan maju jika perhatian terhadap ilmu masih kurang. Jangankan membaca karya-karya besar para ulama, untuk sekadar menyentuh dan mengenal judulnya saja, kita sudah sangat abai.

Hal yang lebih memprihatinkan adalah ketika kondisi tersebut justru harus terjadi di Perguruan Tinggi Islam. Sudah menjadi rahasia umum jika hampir seluruh Perguruan Tinggi Islam tidak pernah memerhatikan pentingnya perpustakaan. Hal yang sering diperhatikan oleh Perguruan Tinggi justru masalah bangunan fisik. Ia masih berlomba-lomba untuk membuat bangunan fisik yang megah. Namun, ketika melihat perpustakaan, kondisinya masih sangat memprihatinkan.

Ketika bergelut dalam dunia pendidikan, umat Islam pun masih sering dibuat pusing untuk membangun kelas dan sarana-sarana sekunder lainnya. Padahal, selama ada guru dan ilmu, belajar bisa dilakukan di mana saja—sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama dahulu. Terlebih lagi, kelas biasanya digunakan hanya beberapa jam. Selebihnya, ia akan ditinggalkan menjadi ruangan kosong.

Padahal, jika melihat Baitul Hikmah, tradisi pertama yang dibangun adalah tradisi ilmu—bukan bangunan fisik. Bahkan, ketika Baitul Hikmah telah berubah menjadi pusat ilmu, secara otomatis ia menjadi universitas. Dari perpustakaan-lah universitas kemudian berdiri. Berbeda dengan zaman sekarang, perpustakaan justru harus berdiri jika lembaga pendidikan telah berdiri terlebih dahulu. Bahkan, yang lebih memprihatinkannya, banyak universitas yang sudah berdiri puluhan tahun tapi tidak pernah memiliki perpustakaan.

Keadaan seperti itu belum ditambah dengan mental umat Islam yang kurang menyimpan perhatian besar terhadap buku dan ilmu. Pada tahun 1995, Universitas Indonesia (UI) pernah membuat tim untuk melakukan penelitian tentang naskah-naskah Arab Melayu. Penelitian tersebut menemukan ada sekitar 20% dari 1500 naskah beraksara Arab Melayu di Kesultanan Cirebon hancur untuk kemudian tidak bisa dimanfaatkan lagi. Sedangkan di Kesultanan Yogya, ada sekitar 10% naskah kuno Arab-Jawa rusak. Padahal pada masa lalu, bahasa Arab-Melayu adalah bahasa pendidikan dan literasi. Bahasa tersebut kemudian menjadi salah satu bahasa Islam terbesar dan menjadi faktor yang menyatukan kepulauan nusantara.

Fenomena tersebut kemudian diperburuk dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang sering menjual-belikan naskah-naskah para ulama. Oman Fathurahman, Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), pernah menulis di Harian Republika (11/11/2011), bahwa perdagangan naskah-naskah para ulama nusantara ke perpustakaan-perpustakaan Barat adalah “hal lumrah” yang sering terjadi. Oman, misalnya, pernah diajak oleh Annabel Teh Gallop, kepala koleksi Asia Tenggara, untuk melihat belasan manuskrip asal Aceh yang baru dibeli tahun 2004 oleh British Library dari sebuah toko buku antik di London, Arthur Probsthain. Ketika melihat naskah-naskah tersebut, Oman sangat terkejut. Karena, naskah-naskah tersebut adalah manuskti-manuskrip penting dan tidak pernah ada dalam katalog manuskrip nusantara.

Jika ingin maju dan disegani oleh masyarakat dunia, umat Islam harus membangun tradisi ilmu yang canggih. Karena dari tradisi ilmu ala Islam-lah, umat Islam akan mampu berdiri tegak menunjukkan rasa percaya dirinya (‘izzah) di hadapan masyarakat dunia. Namun, yang sekarang terjadi justru bukan seperti itu. Umat Islam selalu merasa rendah diri (inferior) di hadapan gempuran ilmu-ilmu yang datang dari Barat. Kondisi seperti itu diperburuk lagi dengan minimnya perhatian umat Islam untuk membangun tradisi ilmu. Tidak aneh, jika kemudian peradaban Islam menjadi peradaban yang tidak gemilang. Wallahu a’lam

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s