NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM SURAH LUQMAN AYAT 12-19

oleh : Gyan Puspa Lestari

Nilai berdasarkan arti denotatifnya dapat dimaknai sebagai harga. Namun ketika nilai dihubungkan dengan suatu objek atau sudut pandang tertentu, harga yang terkandung didalamnya memiliki pemaknaan yang bermacam-macam. Dalam kaitan dengan nilai pendidikan, maka mengandung arti konsep pendidikan menjadi bahan utama dalam pertimbangan nilai. Dengan demikian nilai pendidikan yang akan dikaji dalam tulisan ini adalah sesuatu yang berharga yang memiliki kaitan dan mendukung pemikiran dan pelaksanaan pendidikan khususnya dalam surah Luqman ayat 12-19.

Berdasarkan susunan mushaf utsman surah Luqman merupakan surah ke 31, terdiri dari 34 ayat, termasuk golongan surah-surah Makiyyah, dan diturunkan sesudah surah Ash-Shaffaat. Dinamai surah “Luqman” karena pada ayat 12 disebutkan bahwa “Luqman” telah diberi oleh Allah hikmah, oleh sebab itu dia bersyukur kepada-Nya atas nikmat yang diberikan itu. Dan pada ayat 13 sampai 19 terdapat nasihat-nasihat Luqman kepada anaknya.

Al-Alamah Abi Fadl Syihabuddin Al-Alusi dalam kitab “Ruhul Ma’aani fi Tafsiril Qur’anil Adzim was Sab’il Matsani” (Beirut, 1999: 88) menyebutkan:“Dinamakan surah Luqman karena di dalamnya memuat kisah pengajaran Luqman kepada anaknya. Sebab turunnya surah ini adalah seorang Quraisy bertanya mengenai kisah Luqman beserta anak lelakinya serta tentang bakti kepada kedua orang tuanya, maka turunlah surah ini.”

Aspek personal Luqman Jika dilihat dalam perspektif pendidikan yaitu bahwa kualitas manusia tidak dipandang dari sudut keturunan atau ras. Figur Luqman sebagai seorang pendidik memiliki kelebihan dalam kualitas kepribadiannya bukan kelebihan dalam bentuk kepemilikan berupa material maupun keturunan. Kelebihan dalam konteks ini yaitu hikmah. Luqman dipandang sebagai figur pendidik yang memiliki sifat dan perilaku yang menggambarkan hikmah. Dalam tafsir Ath-Thabari (Kairo, 2005: 6553-6555) hikmah diartikan sebagai pemahaman dalam agama, kekuatan berfikir, ketepatan dalam berbicara, dan pemahaman dalam Islam meskipun ia bukan nabi dan tidak diwahyukan kepadanya.

Implikasi dari makna hikmah bagi figur pendidik adalah bahwa seorang pendidik selain senantiasa berusaha meningkatkan kemampuan akademiknya, ia pun berupaya menselaraskan dengan amalannya. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitabul ‘ilmi bab Al-Igtibat fil ‘ilmi wal hihmah (Ibnu Hajar Al-‘Asqolani dalam kitab Fathul Bari, 1997: 219) ketika menjelaskan bolehnya hasad, salah satunya kepada seseorang yang Allah berikan hikmah lalu ia amalkan dan ajarkan kepada orang lain. Kemudian pada surah Luqman ayat 12 terdapat pula kata “syukur”. Konsep syukur dalam ayat ini, menyiratkan pemahaman pendidik terhadap dirinya sendiri yang menjadi bagian dari nilai pendidikan, yaitu sebagai salah satu syarat yang harus dimiliki oleh pendidik. Saifudin Aman dalam bukunya yang berjudul: “8 Pesan Luqman Al-Hakim” (Jakarta, 2008: 80) menjelaskan bahwa makna syukur berarti meningkatkan seluruh potensi yang diberikan oleh Allah baik fisik, mental maupun spiritual. Adapun bentuknya, yaitu: Pertama, dengan mengucapkan Alhamdulillah. Kedua, dengan merasakan dan menikmati dengan segenap jiwa dan raga. Ketiga, menjadikannya sebagai pemicu untuk meningkatkan kualitas hidup, ibadah, amal baik dan prestasi.

Dalam ayat 13, Allah mengabarkan tentang wasiat Luqman kepada anaknya, yaitu Luqman bin ‘Anqa bin Sadun, dan nama anaknya Tsaran, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Suhaili dalam tafsir Ibnu Katsir (Kairo, 2000: 53)  agar anaknya tersebut hanya menyembah Allah semata dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Ungkapan “la tusyrik billah” dalam ayat ini, memberi makna bahwa ketauhidan merupakan materi pendidikan terpenting yang harus ditanamkan pendidik kepada anak didiknya karena hal tersebut merupakan sumber petunjuk ilahi yang akan melahirkan rasa aman. Sebagaimana firman Allah: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al-An’am: 82). Penyampaian materi pendidikan dalam ayat ini, diawali dengan  penggunaan kata “Ya bunayya” (wahai anakku) merupakan bentuk tashgir (diminutif) dalam arti belas kasih dan rasa cinta, bukan bentuk diminutif penghinaan atau pengecilan (Al-Alusi, 1999: 114). Itu artinya bahwa pendidikan harus berlandaskan aqidah dan komunikasi efektif antara pendidik dan anak didik yang didorong oleh rasa kasih sayang serta direalisasikan dalam pemberian bimbingan dan arahan agar anak didiknya terhindar dari perbuatan yang dilarang. Oleh karena itu, Al-Ghazali dalam “Ihya ‘Ulumuddin” (Al-Manshurah, 1996: 85) menyebutkan bahwa salah satu diantara tugas pendidik ialah menyayangi anak didiknya sebagaimana seorang ayah menyayangi anaknya, bahkan lebih. Dan selalu menasehati serta mencegah anak didiknya agar terhindar dari akhlak tercela.

Dari segi anak didik, ungkapan “la tusyrik billah innassyirka lazhulmun azhim” (janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar) mengandung arti bahwa sesuatu yang tidak boleh dilakukan oleh anak didik tidak hanya sebatas larangan, tetapi juga diberi argumentasi yang jelas mengapa perbuatan itu dilarang. Anak didik diajak berdialog dengan menggunakan potensi pikirnya agar potensi itu dapat berkembang dengan baik. Komunikasi efektif antara Luqman dan anaknya mengisyaratkan bahwa hendaknya seorang pendidik menempatkan anak didiknya sebagai objek yang memiliki potensi fikir.

Dari segi lain, ungkapan Janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar” menimbulkan rasa kehati-hatian di diri anak didik dalam melakukan kewajiban kepada Allah serta usaha untuk menghindar dari persoalan yang dilarang, sehingga dengan demikian materi pendidikan lebih mudah diterima anak didik.

Adapun makna yang dapat diungkap dalam ayat 14 adalah bahwa pendidikan Luqman tidak terbatas pada pendidikan yang dilakukan orang tua kepada anaknya dalam keluarga, karena ayat yang berisi pesan berbuat baik kepada kedua orang tua ini diletakkan di tengah-tengah konteks pembicaraan peristiwa Luqman. Dengan demikian, wasiat Luqman kepada anaknya menjadi dasar bagi pendidikan pada umumnya baik dalam keluarga maupun yang lainnya, yaitu antara lain upaya mendidik anak untuk berbuat baik kepada orang tuanya.

Dalam ayat 14 ini materi berbuat baik kepada kedua orang tua disampaikan melalui anjuran untuk menghayati penderitaan dan susah payah ibunya selama mengandung. Metode seperti ini merupakan cara memberi pengaruh dengan menggugah emosi anak didik, sehingga berdampak kuat terhadap perubahan sikap dan perilaku sesuai dengan tujuan yang diinginkan.

Dalam ayat 14 dapat diungkap pula makna tujuan manusia yang terangkum dalam kalimat “ilayyal mashir”, yaitu kembali kepada kebenaran hakiki dimana sumber kebenaran itu sendiri adalah Allah semata-mata. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah penyerahan diri secara total kepada Allah.

Sedang nilai pendidikan yang tersirat dalam ayat 15 adalah bahwa peran orang tua tua tidaklah segalanya, melainkan terbatas dengan peraturan dan norma-norma ilahi, berdasarkan firman Allah: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya..”. Implikasi pemaknaan tersebut terhadap peran pendidik adalah bahwa pendidik tidak mendominasi secara mutlak kepada tingkah laku anak didik, tetapi anak didik didorong untuk aktif mengembangkan kemampuan berfikirnya untuk menyelidiki nilai yang diberikan berdasarkan pengetahuan yang telah dimilikinya yang berlandaskan kepada nilai-nilai ilahiyah.

Dalam ayat 16 tersirat tujuan pendidikan, yaitu pengarahan kepada perilaku manusia untuk meyakini bahwa tidak ada sesuatu yang sia-sia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa wasiat Luqman dalam ayat ini dimaksudkan untuk mengusik perasaan anaknya agar tumbuh keyakinan akan kekuasaan Allah yang tidak terbatas. Jika keyakinan ini tumbuh, maka akan lahir pula sikap-sikap dan perbuatan baik, sesuai dengan keyakinan akan keMahatahuan Allah yang telah tertanam dalam dirinya.

Al-Qurthubi mengatakan dalam tafsir Al-Jami’ li Ahkaamil Qur’an (Kairo, 1994: 68): “Makna ayat ini yaitu bahwa Allah menghendaki amal-amal perbuatan, baik itu perilaku maksiat maupun perilaku ketaatan. Maksudnya: Jika amal itu adalah amal baik atau amal itu adalah amal buruk, meski itu seberat biji sawi, niscya Allah akan mendatangkannya. Yakni bahwa seorang manusia tidak akan kehilangan sesuatu yang telah ditakdirkan padanya.”

Dalam ayat ini pula terkandung komunikasi pendidikan melalui penghayatan yang melibatkan lingkungan untuk memperoleh penguatan yang lebih mendalam, tidak hanya sebatas pengetahuan. Hal ini tampak dalam ungkapan “mitsqala habbatin min khardalin” (seberat biji sawi). Kata-kata “habbatin min khardalin” merupakan upaya komunikasi melalui kata-kata yang mendekatkan makna nilai yang dididiknya dengan pengalaman yang telah dimiliki anak didik.

Pengungkapan materi pendidikan dalam ayat ini dilakukan melalui perumpamaan yang dimaksudkan untuk memudahkan pemahaman anak didik mengenai suatu konsep yang abstrak dengan cara mengambil sesuatu yang telah diketahuinya sebagai bandingan, sehingga sesuatu yang baru itu dapat dipahami karena terkait dengan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya (apersepsi). Kata-kata “di dalam batu”, “di langit”, atau “di perut bumi” merupakan ungkapan-ungkapan yang dikenal dan dipersepsi keadaannya oleh anak didik sebagai sesuatu yang tidak mungkin diketahuinya, karena keadaannya yang jauh, dalam dan tidak terjangkau oleh pengetahuan manusia. Dalam tempat dan keadaan seperti itu, sebuah biji sawi yang kecil diketahui oleh Allah.

Dalam ayat 17 terdapat materi pendidikan berupa shalat, yaitu bentuk ibadah ritual yang wajib dilakukan oleh setiap muslim dengan cara dan waktu yang telah ditentukan, materi amar ma’ruf nahyi munkar, yaitu kewajiban setiap muslim untuk mengajak orang lain berbuat kebaikan dan melarang berbuat kemungkaran “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkarmerekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali-Imran: 104) dan materi sabar, yaitu menerima dengan lapang dada hal-hal yang menyakitkan dan menyusahkan serta menahan amarah atas perlakuan kasar.

Dalam Ayat 18 Luqman mengatakan: “Jangan kamu palingkan wajahmu dari manusia ketika berbicara kepada mereka atau mereka berbicara denganmu karena merendahkan mereka dan sombong kepada mereka. Akan tetapi berlemah lembutlah kamu, dan tampakkan keramahan wajahmu pada mereka (Sebagaiman dijelaskan Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Qur’nul ‘Adzim, Kairo, 2000: 56). Ini menunjukan etika berinteraksi dengan lingkungan masyarakat yang lebih luas. Sopan dan rendah hati dapat dipandang sebagai materi yang sangat penting untuk diajarkan sebagai bekal bersosialisasi.

Allah Ta’ala berfirman:“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37)

Allah berfirman: “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” Nilai pendidikan yang terdapat dalam ayat ini berkaitan dengan metode pendidikan, yaitu menyampaikan komunikasi melalui pemisalan. Tamtsil yang dimaksud adalah keledai dengan sifat yang melekat dalam dirinya yang digunakan untuk mengumpamakan orang yang bersuara keras. Sedangkan tujuan yang tersirat di dalamnya adalah agar terdidik tidak berbuat sombong, tetapi dapat berkata dan berperilaku lemah lembut dan sopan.

Selain itu, dalam ayat ini binatang (keledai) digunakan sebagai alat pendidikan. Penggunaaan alat pendidikan yang diambil dari lingkungan yang akrab dengan anak didik mengandung makna dan nilai paedagogis yang dalam, karena komunikasi pendidikan yang ditunjang oleh alat pendidikan akan memungkinkan terjadinya komunikasi yang efektif, yaitu  anak didik dapat mencerap makna didikan secara utuh, karena alat yang digunakan telah dikenal secara akrab oleh terdidik. Dengan demikian materi pendidikan dapat disampaikan dengan baik yang dalam konteks ayat ini adalah adab kesopanan. Wallahua’lam

2 responses to “NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM SURAH LUQMAN AYAT 12-19

  1. Izin copy juga ya….

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s