Pendidikan

Pendidikan. Kata yang telah akrab dalam kehidupan kita sehari-hari. Bahkan, kata tersebut menjadi barometer untuk mengukur keberhasilan seseorang. Kita akan menyebut orang yang berhasil sebagai orang yang berpendidikan. Kita pun akan menyebut orang yang tidak berhasil sebagai orang yang tidak berpendidikan.

Pendidikan bahkan bukan hanya menjadi barometer keberhasilan individu, tetapi menjadi keberhasilan sebuah negara. Negara yang maju adalah negara yang berpendidikan dan negara yang tidak maju adalah negara yang tidak berpendidikan. Meskipun barometer yang menjadi ukuran untuk menimbang pendidikan bisa menjadi bias. Tergantung sudut pandang dan keyakinan orang atau lembaga yang mengukurnya.

Pendidikan dengan demikian tidak bisa kita sepelekan. Jika sepakat untuk menganggap pendidikan sebagai hal penting, kita harus bertanya: apa itu pendidikan? Beragam jawaban yang akan diberikan dari pertanyaan tersebut. Ada yang berpandangan bahwa pendidikan adalah kelas, bangku, gedung bertingkat, dan fasilitisas fisik lainnya. Ada juga yang membayangkan bahwa pendidikan adalah ijazah serta rentetan gelar akademik dari mulai S1, S2, dan S3. Dengan demikian, orang yang berpendidikan adalah orang yang lulus dari bangku kelas, gedung bertingkat, dan diberi gelar S1, S2, S3. Tidak aneh, karena ingin menjadi sosok yang berpendidikan, banyak orang yang hanya terobsesi mengejar gelar tersebut—mesikpun harus dilakukan dengan cara yang tidak berpendidikan sekalipun. Praktis, selesai S3—apalagi menjadi profesor, banyak orang yang merasa tidak perlu untuk mendapatkan pendidikan lagi. Yang lebih parahnya, banyak yang bertitel akademik tetapi kapasitas keilmuannya tidak sebanding dengan gelarnya. Tidak pernah menulis, tidak memiliki magnum opus, mengajar seenaknya, dan lain-lain.

Setelah bertanya tentang pendidikan, kita harus bertanya: apa tujuan pendidikan? Sama seperti pertanyaan di atas, berbagai jawaban pasti akan kita dapatkan. Menurut sebagian orang, tujuan pendidikan adalah untuk mencetak orang-orang yang siap kerja. Karena untuk mencapai tujuan tersebut, maka didirikanlah berbagai lembaga pendidikan yang tujuannya agar setelah lulus anak didik tidak menjadi penganggguran. Di sini, pendidikan akan menjadi seperti pabrik yang siap mencetak karyawan—bukan ilmuan. Tidak aneh, jika pendidikan seperti ini yang kita pilih, ongkos pendidikan akan menjadi semakin mahal. Pendidikan akan menjadi semacam kontrak jual-beli dan untung-rugi. Pendidikan pun akhirnya menjadi bisnis. Perang tarif pendidikan menjadi fenomema yang tidak aneh.

Sedangkan menurut Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) negara kita, tujuan pendidikan adalah untuk “mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Berbeda misalnya jika pertanyaan di atas kita ajukan kepada dunia pesantren. Bagi pesantren, tujuan pendidikan bukan untuk untuk mencetak manusia yang siap kerja. Terlebih lagi, di pesantren, anak didik tidak pernah diajari untuk bekerja. Meminjam Al-Attas, pendidikan bagi pesantren adalah untuk mencetak manusia yang baik (good man). Itu saja. Tidak lebih dan tidak kurang. Apalagi, bagi masyarakat kita, ijazah pesantren dianggap “tidak laku”. Lalu, bagaimana santri bisa “mempertahankan hidup?” Jawabannya adalah kemandirian. Di pesantren santri telah dididik untuk hidup mandiri. Tidak menyusahkan orangtua, saudara, tetangga, masyarakat, dan negara. Kemandirian itulah yang bisa membuat santri “bertahan hidup”. Mereka mengikuti tradisi para ilmuwan Muslim selama ribuan tahun yang selalu hidup mandiri. Kemandirian itulah yang menyebabkan para ilmuwan Muslim diberi nama sesuai dengan pekerjaan mereka. Dalam barisan para ilmuwan Muslim, kita akan mendapatkan orang-orang yang memiliki nama seperti Al-Qaffal (tukang kunci), Al-Jashshash (tukang kapur), Al-Khayyath (tukang jahit), Ash-Shabban (tukang sabun), Al-Jazzaj (tukang kaca), dan Al-Qaththan (tukang kapas). Hal yang tidak pernah terjadi dalam tradisi ilmuwan-ilmuwan Barat. Para ilmuwan Muslim pun tidak merasa hina ketika diberi gelar seperti itu.

Keadaan akan menjadi lebih kompleks jika kita ajukan pertanyaan kepada setiap filsafat yang ada. Pendidikan bagi seorang Paolo Freire adalah praktik kebebasan dari masyarakat miskin dan marginal terhadap penguasa. Dalam pandangan Freire, ada steorotif negatif dari masyarakat kecil terhadap penguasa. Freire kemudian mengkritik pendidikan yang selama ini lebih mirip dengan praktik perbankan (banking). Siswa menjadi deposito dan guru menjadi depositor. Guru menyimpan deposito sedangkan murid hanya cukup menerima, mengingat, dan mengulangi dengan sabar. Dalam keadaan seperti ini, siswa hanya menjadi penonton (spectator), bukan kreator (re-creator). Semakin besar peran ini dimainkan, semakin besar peluang siswa untuk mengadaptasi dunia pelaku kezaliman.

Keadaan akan semakin lebih kompleks lagi jika kita ajukan pertanyaan kepada Edmund Husserl, Martin Heidegger, Jean Paul Sartre, Maurice Merleau Ponty, Martin Buber, John Dewey, Willian James, dan lain sebagainya. Mungkin akan ada orang yang bertanya: untuk apa mengajukan pertanyaan kepada orang-orang tersebut? Jawabannya adalah: praktik pendidikan yang selama ini kita lakukan banyak mengadopsi pemikiran tokoh-tokoh tersebut. Kita yang tidak sadar dengan hal tersebut.

Itulah pendidikan. Dunia yang sangat penting tetapi masih menyisakan banyak masalah. Terutama masalah filsafat dan paradigma. Berbagai filsafat pendidikan memang bisa kita kaji sebagai penambah wawasan. Tanpa kecuali. Namun, yang terjadi selama ini, filsafat pendidikan yang selalu kita pelajari—dan diterapkan dalam dunia pendidikan—hanya filsafat Barat dengan berbagai alirannya. Kita masih pilih-pilih ketika mempelajari filsafat pendidikan. Bahkan, kita merasa lebih bangga dan modern ketika mempelajari filsafat pendidikan Barat. Padahal, jika mau adil, filsafat pendidikan Islam harus menjadi bahan kajian untuk membuat landasan pendidikan. Terlebih lagi bagi bangsa dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia.

Namun sayang, filsafat pendidikan Islam kurang populer. Bahkan, di kampus-kampus yang berlabel pendidikan sekalipun. Ia tenggelam di dalam arus filsafat pendidikan Barat yang sekular-liberal-materialis. Inilah mungkin yang menyebabkan pendidikan kita berwajah sekular-liberal-materialis. Anak didik yang lahir adalah manusia-manusia yang secular-liberal-materialis. Persis seperti tempat dimana aliran-aliran filsafat tersebut lahir dan berkembang. Tempat-tempat tersebut adalah tempat-tempat yang sekular-liberal-materialis. Itulah pendidikan kita sekarang. Arif Munandar Riswanto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s