Pentingnya Model dalam Pendidikan Karakter

Arif Munandar Riswanto

Akhir-akhir ini kita sering mendengar wacana tentang Pendidikan Karakter (PK). Wacana tersebut hadir karena disinyalir dunia pendidikan pada saat sekarang sedang menghadapi tantangan yang sangat serius, yaitu masalah karakter anak didik.

Berbagai program pendidikan dan kucuran dana yang jor-joran ternyata tidak bisa menjadi solusi dari permasalahan krusial dalam dunia pendidikan. Bahkan, dalam kenyataannya, semakin tinggi “pendidikan” seseorang, semakin “tidak berpendidikan” dan “tidak berkarakter” orang tersebut. Kasus-kasus seperti korupsi, penggelapan pajak, dan illegal loging sering dilakukan oleh orang yang “berpendidikan”. Kejahatan-kejahatan seperti itu tidak pernah dilakukan oleh orang yang “tidak berpendidikan”.

Karena pentingnya penanaman karakter, Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) memandang pentingnya Pendidikan Karakter ditanamkan dalam dunia pendidikan Indonesia. Bahkan, karena inisiatif tersebut, pada waktu sekarang, berbagai acara tentang Pendidikan Karakter—seperti seminar, workshop, simposium—sering dilakukan di berbagai tempat. Ada juga wacana yang menyarankan agar nilai-nilai karakter terintegrasi secara langsung ke dalam setiap Mata Pelajaran.

Berbagai laporan tentang semakin tingginya angka-angka narkoba, free sex, tawuran, korupsi, pornografi, dan lain sebagainya menjadi bukti kuat bagi kita tentang rendahnya kualitas karakter bangsa Indonesia. Lalu, apa yang menjadi penyebab hal tersebut?

Ratna Megawangi berpendapat bahwa salah satu penyebab hilangnya karakter dalam dunia pendidikan karena paradigma pendidikan selama ini cenderung lebih menekankan headstart (kecerdasan IQ) daripada heartstart (kecerdasan emosi). Menurutnya, paradigma headstart menekankan anak “harus bisa” hingga ada kecenderungan anak harus belajar terlalu dini (early childhood training).  Kasus-kasus seperti  antisocial personality disorder, learning disability, dan lain sebagainya lahir dari paradigma pendidikan yang headstart (2009: 37-38).

Bahkan, karena pentingnya PK ditanamkan sedini mungkin kepada anak didik, sebuah yayasan yang bergerak dalam Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK), Indonesia Heritage Foundation (IHF), menyebut sekolah-sekolah yang dirintisnya sebagai sekolah karakter. IHF bahkan membuat sembilan pilar karakter yang ditanamkan dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), yaitu: (1). Cinta Tuhan dan segenap ciptaaan-Nya. (2). Kemandirian dan tanggungjawab. (3). Kejujuran/amanah, diplomatis. (4). Hormat dan santun. (5). Dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama. (6). Percaya diri dan pekerja keras. (7). Kepemimpinan dan keadilan. (8). Baik dan rendah hati. (9). Toleransi, kedamaian, dan kesatuan (Ratna Megawangi, 2009: 93).

 

Model dalam Diri Rasulullah

Ada hal penting yang mungkin luput dari perhatian kita selama ini tentang PK, yaitu masalah model. Model tersebut penting untuk dijadikan acuan agar PK tidak jatuh ke dalam kubangan krisis identitas dan pencarian yang tidak pernah selesai.

Krisis identitas dan pencarian itulah yang terjadi dalam praktik pendidikan Barat. Berbagai pakar PK dan Pendidikan Holistik pada era posmodern seperti Thomas Lickona, Ron Miller, John Miller, dan Scott H Forbes tidak pernah membahas siapa sosok yang bisa dijadikan model karakter. Sosok-sosok seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Jean Jacques Rousseau, John Dewey, Montessori, dan Pestalozzi pun tidak pernah dijadikan model karakter oleh manusia Barat. Meskipun para ilmuwan tersebut sering berbicara tentang masalah nilai, moral, etika, dan karakter.

Bahkan, sosok Nabi Isa sekalipun tidak pernah menjadi model utama manusia Barat. Terlebih lagi, agama Kristen telah mengalami westernisasi. Teologi, ritual, dan simbol-simbol agama Kristen telah menjadi Barat.  Ia telah bercampur dengan berbagai mitos dan budaya masyarakat Barat. Agama Kristen pun kemudian berubah menjadi Barat. Proses westernisasi tersebut terjadi karena proses sekularisasi yang terjadi dalam seluruh lini kehidupan manusia Barat—termasuk sekularisasi karakter.

Dalam Islam dan Sekularisme (2010: 119), Al-Attas menjelaskan, karena tidak memiliki model, manusia Barat akhirnya jatuh ke dalam tragedi dan krisis identitas. Tiga generasi manusia Barat—muda, setengah baya, dan tua—tidak menjadikan satu dengan lain sebagai teladan hidup. Akibatnya, manusia Barat akan selamanya disibukkan oleh pencarian identitas dan makna hidup. Setiap generasi tidak puas dengan nilai-nilai hidupnya yang terus berevolusi hingga akhirnya menemukan ketidaksesuaian pada diri mereka sendiri. Hal tersebut ditambah dengan krisis identitas gender yang melanda masyarakat Barat. Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan kezaliman (zulm).

Al-Attas kemudian menjelaskan bahwa fenomena di atas—yang kemudian diaplikasikan ke dalam praktik pendidikan—dikarenakan peradaban Barat tidak memiliki Realitas tunggal yang bertugas untuk menentukan pandangannya, tidak memiliki kitab tunggal yang absah untuk membimbing kehidupan, dan tidak ada seorang manusia pembimbing yang kata-kata, perbuatan, dan seluruh kehidupannya bisa ditiru dan dijadikan teladan.

Berbeda dengan Islam, seorang Muslim tidak akan mengalami tragedi, krisis nilai, dan krisis identitas yang dialami oleh manusia Barat. Hal tersebut karena Islam telah memberikan model dan pola yang bisa dijadikan rujukan oleh setiap Muslim, yaitu Rasulullah.

Rasulullah adalah sosok yang hidup dalam kehidupan umat Islam. Setiap hari nama beliau selalu disebut oleh seluruh umat Islam di seluruh dunia. Umat Islam senantiasa mendoakan beliau dan keluarga beliau. Bahkan, Allah dan para malaikat pun memberikan shalawat kepada beliau. Kehidupan sehari-hari beliau, dari hal-hal yang paling kecil sampai hal-hal paling besar, selalu menjadi cermin kehidupan umat Islam sepanjang masa. Beliau benar-benar hidup dalam kehidupan sehari-hari umat Islam. Beliau adalah teladan untuk anak kecil, remaja, setengah baya, dan orang tua. Inilah yang telah ditegaskan oleh Allah bahwa Rasulullah adalah teladan terbaik (uswah hasanah) bagi umat manusia. Allah Swt. berfirman, Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (QS Al-Azhzab: 21).

Rasulullah yang dijadikan sebagai model utama itulah yang kemudian diaplikasikan dalam praktik pendidikan Islam. Institusi-institusi pendidikan seperti al-jami’ah (universitas/tempat universal), al-jami’ (masjid), maktab (institut), madrasah (college), bait al-hikmah (perpustakaan), dar al-‘ulum (pusat sains), majalis (majelis), dan zawiyah (tempat para sufi) adalah tempat-tempat pendidikan yang menjadikan Rasulullah sebagai model. Karena menjadikan Rasulullah sebagai model, tujuan yang dicapai dalam pendidikan Islam adalah untuk membentuk insan kamil (manusia universal).

Anak didik alumnus institusi-institusi pendidikan seperti itu kemudian mampu menjadi ilmuwan dunia yang sangat tangguh. Seberat apa pun muatan “kognitif” (headstart) pelajaran yang dipelajari oleh para ulama, akhlak mereka tidak pernah tercela (heartstart). Ilmu dan amal menjadi pola hidup mereka sehari-hari. Akibatnya, ilmuwan-ilmuwan tersebut tidak pernah mengalami split personality. Biografi hidup mereka penuh dengan nilai-nilai luhur dan masih hidup sampai zaman sekarang—sebagaimana bisa kita baca dalam buku-buku biografi seperti tarajum, thabaqat, tarikh, dan sirah. Hal tersebut karena mereka menjadikan Rasulullah sebagai anutan hidup.

Karena menjadikan Rasulullah sebagai model, para ilmuwan Muslim pun kemudian menjadi generasi yang meneruskan risalah kenabian. Hal inilah yang telah disabdakan oleh Rasulullah, bahwa para ulama adalah pewaris para nabi.

Sejatinya, praktik pendidikan Islam—sebagaimana tercermin dalam dunia pesantren—adalah praktik pendidikan yang jelas. Hal tersebut karena kejelasan model yang dijadikan anutan dan target dalam pendidikan. Bahkan, jika kita kaitkan dengan Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional—yang bertujuan untuk membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab—sekalipun, pendidikan Islam memiliki sosok yang bisa dijadikan model nilai-nilai yang ada dalam Undang Undang tersebut. Dengan demikian, karena memiliki model, anak didik yang lahir dari pendidikan Islam adalah anak didik yang harus memiliki karakter dan akhlak mulia. Persis seperti sosok Rasulullah yang menjadi model dan teladan hidup umat Islam. Wallahu a’lam bish-shawwab

 

 

 

2 responses to “Pentingnya Model dalam Pendidikan Karakter

  1. Kunjungan Sore,

    Salam Kenal ya, ketemu blog yang super..

    Maju terus…

  2. Satu-satunya suri tauladan mulia Rusulullah SAW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s