Alam, Sains, dan Ayat Allah

Arif Munandar Riswanto

Sudah menjadi rahasia umum bahwa negeri Indonesia ini adalah negeri yang sangat indah. Berbagai hamparan alam yang sangat indah dan luas terbentang di setiap penjuru. Limpahan kekayaan yang dikandung oleh perut bumi pertiwi pun sangat melimpah ruah. Bahkan, ribuan pulau yang berjajar dari Sabang sampai Merauke hanya dimiliki oleh Indonesia.

Namun, keindahan alam tersebut sedikit demi sedikit sudah mulai terkikis. Kasus-kasus kejahatan lingkungan dari yang terkecil sampai yang terbesar justru menjadi drama kehidupan masyarakat Indonesia. Akibatnya, negeri yang indah ini berubah menjadi negeri tumpukan sampah, illegal loging, banjir, dan longsor.

Mungkin banyak orang yang bertanya, jika kekayaan alam yang dimiliki oleh negeri ini sangat melimpah ruah, lalu apa yang harus kita lakukan untuk menyikapinya? Apakah alam semesta ini murni gejala alam atau ada “pesan” yang ingin disampaikan?

Seluruh ciptaan yang ada di alam semesta ini adalah fenomena alam yang bisa dirasakan oleh semua orang. Semua orang dari berbagai latar belakang keyakinan bisa melihat fenomena tersebut dengan kasat mata. Namun, yang menjadikan berbeda adalah tafsir terhadap kejadian tersebut. Bagi seorang Muslim, segala hal yang ada di alam semesta ini adalah ayat (tanda) Allah. Allah sedang mengirimkan pesan (tanda/ayat) melalui ciptaan-Nya. Sedangkan bagi orang-orang sekular, alam semesta ini tidak ubahnya seperti mesin yang bergerak sendiri. Tidak ada tanda atau simbol Pencipta di balik alam semesta ini—termasuk bencana alam.

Tafsiran terhadap segala hal yang terjadi dalam kehidupan ini banyak ditentukan oleh konsep-konsep dasar yang dianut oleh sebuah milleu tertentu—seperti konsep tentang alam semesta, manusia, tujuan hidup, ilmu, kebahagiaan, wahyu, dan terutama Tuhan. Konsep-konsep dasar itulah yang akan menjadi penentu sebuah millieu dalam menafsirkan segala hal yang ada di dalam kehidupan ini.

Pandangan Islam terhadap Alam

Pada tanggal 5 November 2010, sebuah situs yang menamakan diri sebagai Islam Liberal menurunkan tulisan yang berisi bahwa musibah alam jangan dikaitkan kepada azab Tuhan. Menurut tulisan tersebut, gejala alam yang sekarang terjadi adalah proses alam saja.

Dalam tulisan yang lain, situs tersebut mengimbau agar masalah bencana alam jangan ditanyakan kepada pemuka agama, tetapi kepada “ilmuwan”. “Sudah saatnya wartawan pergi ke ahli geologi untuk mengedukasi masyarakat.” Imbau salah seorang yang pendapatnya dikutip dalam tulisan tersebut. Benarkah seperti itu?

Dalam pandangan Islam, alam adalah ciptaan Allah (makhluq). Ia memiliki posisi yang sama dengan manusia yang juga sebagai makhluk-Nya. Jika disebut ciptaan, berarti ada Pencipta (Al-Khaliq). Karena, dalam pandangan Islam, alam tidak tercipta secara kebetulan untuk kemudian bergerak dengan sendirinya.

Itulah alasan mengapa Allah menyebut seluruh ciptaan-Nya sebagai tanda kekuasaan-Nya (ayat Allah). Secara etimologi, ayat berarti tanda atau simbol. Ia adalah tanda Allah (sign of Allah). Ia sama dengan kata alam (‘alam) yang juga berarti simbol. Kata alam kemudian memiliki akar kata dan makna etimologis yang sama dengan kata ilmu (‘ilm). Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam pandangan Islam, alam adalah salah satu sumber ilmu—tetapi bukan satu-satunya—yang bisa diobservasi. Dengan demikian, ilmu, alam, dan tanda Allah memiliki mata rantai yang sama.

Itulah juga yang menjadi alasan mengapa di dalam Islam, alam disebut dengan ayat. Ia disandingkan dengan Al-Quran yang juga terdiri dari ayat-ayat. Namun, menurut para ilmuwan Muslim, bedanya, alam adalah ayat yang bisa dilihat (ayah al-manzhur) sedangkan Al-Quran adalah ayat yang bisa dibaca (ayah al-matluww). Namun, Keduanya tetap sama-sama menyimpan pesan, simbol, dan tanda kekuasaan Allah.

Memang betul, jika kita menggali perut bumi sampai ke akarnya dan menjelajahi angkasa sejauh mungkin, kita tidak akan melihat Allah. Lalu, dari mana kita bisa “melihat” Allah? Kita bisa “melihat” Allah dari panduan wahyu. Karena, dalam bangunan epistemologi Islam, wahyu adalah sumber ilmu paling otoritatif (al-khabar ash-shadiq) dan paling tinggi. Wahyu telah menjelaskan dengan sangat detail tentang segala ciptaan Allah—yang menjadi tanda-tanda-Nya. Bahkan, wahyu yang harus menjadi pijakan dan panduan ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh manusia (‘ilm muktasab). Itulah yang menjadi alasan mengapa dalam sejarah peradaban Islam wahyu dan ilmu pengetahuan bisa berjalan seiringan. Bahkan, kegemilangan peradaban Islam diraih berkat dorongan kuat dari wahyu.

Menurut Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas dalam Prolegomena to the Metaphysics of Islam (2001: 1-4), pandangan hidup Islam (islamic worldview) yang seperti itu berangkat dari pandangan bahwa realitas dan kebenaran (reality and truth) di dalam Islam bukan terbatas pada dunia yang terindra (sensible experience) saja, tetapi mencakup dunia yang tidak terindra. Realitas dan kebenaran di dalam Islam pun bersumber dari wahyu. Ia tidak terbentuk dari proses historisasi, spekulasi filosofis, penemuan ilmiah, dan dialektika (tesis-antisesis-sintesis) yang terjadi dalam sejarah panjang manusia.

Tradisi ilmu seperti itulah yang tidak berkembang dalam tradisi masyarakat Barat. Pandangan hidup Barat (western worldview ) yang sekularistik berpandangan bahwa alam ini bukan tanda Tuhan. Alam hanya tatanan kosmik yang bekerja sendiri. Tidak ada pesan Tuhan di baliknya. Ilmuwan sebesar Stephen Hawking saja—yang kepintarannya disamakan dengan Albert Einstein, misalnya, dalam karyanya paling baru, The Grand Design (2010), berpendapat bahwa Tuhan tidak penting untuk menjelaskan asal penciptaan alam. Menurutnya, teori Big Bang sudah cukup untuk menjelaskan konsekuensi yang ada dalam hukum dunia fisik. Pada tanggal 2 September 2010, situs www.bbc.co.uk pernah menurunkan berita dengan judul, Stephen Hawking: God did not create Universe. Hawking kemudian berujar bahwa tidak ada tempat untuk Tuhan bagi teori penciptaan alam semesta (there is no place for God in theories on the creation of the Universe). Menurutnya, ada hukum seperti gravitasi yang bisa diciptakan sendiri oleh alam dari ketiadaan.

Sebelumnya, dalam karyanya yang berjudul A Brief History of Time (1988), Hawking menggunakan kata “Tuhan” dalam makna yang penuh metafora. Namun, dia berujar bahwa keberadaan Tuhan tidak perlu untuk menjelaskan asal mula alam semesta. Dengan kata lain, menurut ilmuwan yang menderita penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) tersebut, setelah menciptakan alam semesta, Tuhan “nganggur” untuk kemudian tidak terlibat terhadap mekanisme yang terjadi pada alam semesta. Baru pada tahun 2010, melalui karyanya yang berjudul The Grand Design, Hawking secara terang-terangan berpendapat bahwa Tuhan tidak menciptakan alam semesta. Bahkan, mantan istrinya, Jane, berpendapat bahwa Hawking adalah seorang ateis.

Kepercayaan-kepercayaan Barat seperti itulah kemudian yang menjadi epistemologi ilmu Barat modern. Standar ilmiah pun kemudian berdiri di atas kepercayaan tersebut. Hal ini berangkat dari keyakinan Barat bahwa kebenaran dan realitas terbatas pada dunia fisik saja. Ia terbentuk dari proses historisasi, spekulasi filosofis, penemuan ilmiah, dan dialektika (tesis-antisesis-sintesis) sejarah manusia yang panjang.

Keyakinan seperti itu tidak akan pernah mengantarkan manusia Barat kepada Tuhan. “Semaju” apa pun teknologi dan ilmu pengetahuan yang diraih oleh Barat. Bahkan, dalam bentuk yang lebih ekstrem, pandangan seperti itu akan menyeret manusia ke dalam kubangan atheisme. Tidak aneh, jika ilmu yang berkembang dalam peradaban Barat akhirnya menyeret manusia kepada atheisme. Para ilmuwannya pun akhirnya menjadi orang-orang atheis.

Manusia kemudian menjadi tuhan baru dan ukuran segala sesuatu. Inilah yang ribuan tahun lalu telah ditegaskan oleh salah seorang pemikir sofis Yunani Kuno, Protagoras (490-420 SM), bahwa manusia adalah ukuran segala sesuatu (man is the measure of all things). Cara pandang dan langkah itulah yang sadar atau tidak sadar diikuti oleh kalangan Muslim yang menyebut dirinya sebagai orang yang berpaham liberal.

Pandangan keilmuwan yang sekularistik itulah yang disebut oleh Al-Attas sebagai tantangan keilmuan yang dihadapi oleh umat Islam pada zaman sekarang. Tantangan keilmuwan tersebut bukan dalam bentuk tantangan melawan kebodohan, tetapi tantangan dalam bentuk ilmu yang dipahami dan disebarkan kepada masyarakat dunia oleh peradaban Barat.

Ilmu seperti itu kemudian yang diajarkan di sekolah-sekolah Islam, dianggap sebagai ilmu paling ilmiah, dan dibela mati-matian oleh para ilmuwan Muslim sendiri. Inilah yang telah ditegaskan oleh Ismail Raji Al-Faruqi (1981: 14) bahwa generasi Muslim pada zaman sekarang telah dibaratkan oleh guru-guru dan universitas-universitas Muslim sendiri. Hal tersebut disebabkan umat Islam tidak sadar dengan tradisi ilmu sendiri. Umat Islam merasa inferior terhadap ilmu sendiri dan merasa superior terhadap ilmu Barat. Inilah kemudian yang menyebabkan sekularisasi dalam tatanan ilmu dan pendidikan umat Islam modern.

Umat Islam akhirnya terlepas dari akar tradisi (turats) ilmu sendiri yang selama ratusan tahun dipegang oleh para ulama dengan sangat kuat. Akibatnya, umat Islam mengalami keterputusan epistemologi. Implikasinya, umat Islam kebingungan (confused) menghadapi gempuran ilmu-ilmu modern yang datang dari peradaban Barat. Umat Islam pun akhirnya mengikuti langkah Barat ketika melakukan modernisasi dalam segala aspek kehidupan. Karena, salah satu produk modernisasi adalah memutus mata rantai dengan tradisi (qathi’ah maurutsah min at-turats). Atau, dalam bentuk yang lebih ekstrem, memutus mata rantai dengan agama (qathi’ah maurutsah min ad-din).

Alam adalah hamparan luas kekuasaan Allah. Allah telah mengirimkan pesan-Nya di dalam ayat-ayat-Nya. Ia bisa diteliti tetapi sekaligus merupakan pesan Allah. Ia tidak berhenti pada salah satu aspek saja: bisa diteliti tetapi tidak mengandung pesan-Nya atau mengandung pesan-Nya tetapi tidak bisa diteliti. Inilah pandangan Islam yang integral (syumul) terhadap ilmu.

Jika alam memiliki kedudukan yang seperti itu, sudah seharusnya kita menjaganya dengan sebaik mungkin. Karena, pada hakikatnya, alam adalah “barang” yang dititipkan Allah kepada kita. “Barang” tersebut harus dijaga dengan sebaik mungkin. Ia tidak boleh dirusak dengan seenaknya (prilaku sekular) atau disembah-sembah untuk kemudian dijadikan tuhan (prilaku musyrik).

Berbagai hasil penelitian para ilmuwan pun seharusnya bisa menjadi renungan bagi masyarakat Indonesia agar tidak merusak alam—yang merupakan ciptaan Allah dan tanda kekuasaan-Nya. Bahkan, berbagai penelitian tersebut harus mengantarkan kita kepada kekaguman Penciptanya. Jika memiliki pandangan yang seperti itu, alam pasti akan diperlakukan dengan sewajarnya. Ia tidak akan dirusak karena berpandangan tidak memiliki pesan di dalamnya, atau disembah-sembah karena terlalu takjub dengan pesona alam—bukan takjub kepada Penciptanya. Demikianlah pandangan Islam yang integral terhadap alam, ilmu pengetahuan, dan ayat Allah. Wallahu a’lam bishshawwab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s