Bahaya Agama Pelacur (Studi Kritik terhadap Buku Agama Pelacur)

Agung Aditya Subhan

Pendahuluan

Beberapa waktu lalu, penerbit Lkis bekerjasama dengan IAIN Sunan Ampel, menerbitkan sebuah buku yang berjudul Agama Pelacur: Dramaturgi Transedental. Buku tersebut ditulis oleh seorang profesor yang menjabat Rektor di Perguruan Tinggi Islam Negeri di Surabaya.

Buku tersebut membahas relasi antara agama, pelacur, dan dunia sosialnya. Penulisnya kemudian menyimpulkan bahwa:

Pertama, para pelacur juga manusia yang memiliki kebutuhan untuk berketuhanan—sehingga mereka tidak pantas menjadi makhluk terpinggirkan, sampah masyarakat, dan “stempel” lainnya yang dilekatkan kepada mereka. Bahkan, sang penulis menyatakan, “Mereka juga butuh kasih sayang dan rasa ketuhanan. Rasa ketuhanan itu terwujud dalam berbagai pengakuan dan juga tindakannya: ada keimanan, ritual, doa, dan harapan.”

Kedua, menjadi pelacur bukan pilihan hidup yang diinginkan. Terdapat banyak faktor yang menyebabkan mereka harus menjerumuskan diri ke lembah pelacuran. Karena itu, menurut penulisnya, kita jangan memandang para pelacur dari “panggung depan” (front stage), tetapi juga harus melihat alasan dan hati nurani yang mendorong mereka melakukan pelacuran. Berdasarkan perspektif teori dramaturgi, penulis kemudian menemukan bahwa “… dunia pelacuran juga memiliki ruang agama yang berciri khas. Ruang agama tersebut tidak berada di panggung depan yang hingar bingar, tetapi berada di ruang belakang yang tersembunyi, tetapi berada dalam kesadaran hakiki.”

Sikap yang ditawarkan penulis ini bisa menjadi pembenaran  prilaku pelacuran. Selama pelacur memiliki keimanan, suka beribadah, berdoa, shalat, dan yang lainnya, praktik pelacuran adalah perbuatan yang sah-sah saja. Pandangan seperti itu tentu saja tidak akan menyadarkan para pelacur. Karena, mereka merasa berada pada posisi yang tidak perlu disalahkan.

Selain bahaya pembenaran, ada hal yang sangat kontras dalam kesimpulan tersebut. Ia bisa dibaca dari ungkapan penulisnya, “….Mereka juga butuh kasih sayang  dan rasa ketuhanan. Rasa ketuhanan itu terwujud dalam berbagai pengakuan dan juga tindakannya: ada keimanan, ritual, doa, dan harapan.”

Fenomena tersebut kemudian direfleksikan sebagai ruang agama yang berciri khas. Di satu sisi prilaku pelacuran merupakan prilaku yang bertentangan dengan agama, tetapi di sisi lain para pelacur pun memiliki keimanan dan suka beribadah. Berdasarkan hal tersebut, para pelacur direfleksikan memiliki ruang agama yang kemudian menjadi modal untuk pembenaran prilakunya.

Lebih parah lagi, pada halaman 183 penulis menyatakan dengan jelas, “…. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika di sekitar pelacur ada sajadah, mukena, kitab suci, dan lantunan kalam ilahi yang dikumandangkan di tengah kesibukannya melayani para lelaki hidung bekang.”

Ungkapan demikian sangat menodai kesucian agama, khususnya Islam. Bahkan, susunan kalimat di atas memberikan pemahaman kepada kita bahwa yang dimaksud lantunan kalam Ilahi di sana adalah Al-Quran. Sebab, sebelum kalimat itu didahului dengan sajadah dan mukena.

Kalimat tersebut mengambarkan bahwa penulis tidak memahami ajaran Islam dengan benar. Dari tulisannya tersebut, ia menganggap bahwa fenomena tersebut adalah bentuk keberagamaan para pelacur.

Penulis buku ini adalah rektor dari perguruan tinggi Islam negeri di Surabaya. Seharusnya, ia lebih faham masalah agama, terutama Islam. Walaupun ia pakar di bidang sosiologi, tetapi paling tidak ia bisa bertanya kepada para dosen yang ada di perguruan tinggi tersebut yang pakar di bidang syariah.

Dalam Islam, pelacuran dapat dikategorikan sebagai perbuatan zina. Setelah musyrik, Islam menganggap zina sebagai dosa paling besar (al-kaba`ir). Bahkan, hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah menerangkan bahwa ketika melakukan perzinaan, orang yang berzina bukan orang yang beriman (Shahih Al-Bukhari jilid 4 No. 6772). Bahkan, Islam bukan hanya melarang melakukan zina, tetapi melarang mendekatinya (QS 17: 32).

Berzina adalah melakukan hubungan suami-istri di luar pernikahan. Meskipun hanya dilakukan sekali, zina tetap zina. Itu bagi yang baru sekali melakukannya, terlabih lagi bagi orang yang menjadikannya sebagai pekerjaan?

Kekeliruan dalam menyimpulkan relasi agama, pelacur dan dunia sosial ini disebabkan beberapa faktor, yaitu:

Pertama, Kesalahan memahami agama.

Kedua, Pandangan  sekular.

Ketiga, Penggunaan teori yang keliru.

Kesalahan Memahami Agama

Kekeliruan pertama adalah salah dalam memahami agama—terutama Islam. Banyak pernyataan dan pandangan penulis yang menunjukkan ketidakpahamannya terhadap agama. Sebagai contoh, pada halaman 24, penulis menyatakan, “Agama harus berurusan dengan dunia mitologi sebab agama selalu hadir dengan keyakinan terhadap hal-hal misterius, namun diyakini sebagai sesuatu yang hadir di dalam kehidupan manusia. Salah satu di antara mitologi yang diusung oleh semua agama adalah mengenai proses penciptaan manusia dengan liku-liku seksualitasnya.”

Penulis buku ini kemudian memberikan contoh mitologi-mitologi dari berbagai agama. Contoh pertama yang diberikan yaitu kisah nabi Adam as. dengan Hawa ketika melanggar perintah Allah untuk tidak mendekati sebuah pohon.

Di sini, penulis memandang kisah Nabi Adam as. dengan Hawa sebagai sebuah mitos yang disamakan dengan cerita-cerita yang ada pada agama Hindu, Budha dan lainnya. Padahal, kita mengetahui bahwa tingkat kebenaran mitos lebih rendah dari kebenaran hasil penelitian. Kisah Nabi Adam as. dan Hawa pun sudah termaktub dalam Al-Quran. Ini berarti, penulis menganggap Al-Quran sebagai mitos yang kebenarannya dapat diragukan—na’udzubillahi min dzalik.

Pandangan seperti ini bisa merusak Islam karena merelatifkan suatu kebenaran yang sudah jelas sehingga berakibat pada pemahaman pluralisme agama. Paham pluralisme ini tentu bertentangan dengan agama (Islam). Karena meyakini bahwa semua agama adalah benar, dan memiliki satu tujuan, yaitu The One. Jelas, ini bertolak belakang dengan ayat yang menjelaskan bahwa hanya Islam agama yang diridhai Allah (QS 3: 19).

Selain itu, dalam buku yang tebal halamannya hingga 199 ini, terlihat penulis memandang agama hanya sebatas bentuk keyakinan terhadap Tuhan, tanpa ada konsekuensi-konsekuensi yang harus dilakukan pemeluknya. Keyakinan tersebut seolah-olah tidak ada kaitannya dengan kehidupan yang sedang atau akan dijalani pemeluknya. Hal ini terlihat dalam ungkapannya tentang Agama di Mata Pelacur, “Agama selalu menyangkut persoalan kehadiran yang kudus di dalam kehidupan manusia. Agama selalu terkait dengan misteri ketuhanan. Oleh karena Tuhan adalah misteri, mestinya dia hadir di dalam kemisteriannya itu sehingga jangan salahkan jika ada orang yang mengklaim memiliki pengalaman unik terkait dengan Tuhannya.”  Dalam pernyataan tersebut, Tuhan seolah-olah memiliki kepentingan terhadap manusia sehingga Dia harus datang dan pergi dari manusia. Ketika  Tuhan itu jarang mendatangi seseorang, maka tidak bisa disalahkan jika orang tersebut tidak tertarik kepada Tuhan. Sungguh pemahaman yang sangat berbahaya, apalagi muncul dari seorang rektor perguruan tinggi Islam.

Tentu pandangan agama tersebut sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam. Rasulullah Saw pernah menyampaikan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah ra. bahwa setiap manusia yang dilahirkan berada pada kondisi fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikan putra-putrinya menjadi yahudi, nasrani, dan majusi. Di sini Islam telah menunjukkan bahwa ketika seorang bayi lahir, ia telah Islam. Artinya, bahwa pada dasarnya Islam itu adalah agama yang sesuai dengan fitrah kemanusiaannya. Artinya, kebutuhan dasar manusia salah satunya adalah beragama (berislam). Jadi manusia yang membutuhkan Tuhan, bukan Tuhan yang membutuhkan manusia. Sebagai contoh, ketika seseorang berada di tengah bahaya yang akan menimpanya, maka ketika itu ia sangat membutuhkan pertolongan, pada saat orang tidak ada yang bisa menolongnya seperti ditengah laut, tentu ketika itu ia berdoa sebagai bentuk menaruh harapan, dan ktika berdoa itulah menunjukan bahwa manusia sangat membutuhkan Zat yang bisa melindungi dan menyelamatkannya dari segala bahaya. Meminta pertolongan kepada sesama manusia hanyalah bersifat sementara, bahkan manusia pun tidak selamanya dapat menolong, adakalanya ia pun mengalami bahaya. Oleh karenanya, meminta pertolongan kepada Zat yang tidak pernah mendapat bahaya sangat dibutuhkan manusia walaupun ia mengaku tidak percaya kepada Tuhan.

Islam juga memerintahkan kepada umatnya untuk melaksanakan ajarannya secara kaaffah (menyeluruh). Islam bukan agama yang hanya mengatur kepercayaan kepada yang ghaibatau kebutuhan rohani, tetapi Islam adalah sistem hidup bagi seluruh manusia. Memilah-milah ajaran Islam hanya akan mendatangkan nista di dunia dan siksaaan di akhirat (QS 2: 85).

 

Pandangan Sekular

Dunia pelacuran dipandang oleh penulis sebagai suatu realita yang tidak bisa dilihat sebelah mata. Hal tersebut karena pelacuran merupakan dunia ril yang ada di dalam tatanan sosial masyarakat kita. Di sini penulis memandang sulit untuk menghilangkan pelacuran dari kahidupan sosial manusia.  Penulis menyatakan, “… ia telah menjadi unit usaha yang absah karena telah memiliki izin dari Negara. Antara pelacur, mucikari, dan para penggunanya sama-sama telah menyadari bahwa seksualitas yang diperankan oleh para pelacur adalah kebutuhan dasar manusia yang tidak mungkin dihindarkan. Pelacur dengan tubuhnya adalah komoditas yang bisa menghasilkan kekuatan ekonom.”

Bahkan, penulis pun sangat menyayangkan adanya pembatasan atau penutupan sementara kegiatan para pelacur di bulan Ramadhan. Dengan sinis ia menulis, “maklumlah, di negeri ini pelacur tidak boleh bekerja di bulan Ramadhan. Bulan suci tersebut tidak boleh dikotori dengan tindakan yang melanggar moralitas agama. Padahal, menjelang hari raya, mereka harus pulang ke rumah asalnya. Mereka harus membawa oleh-oleh sebagai tanda kesuksesannya bekerja.”

Ia kemudian menjelaskan bahwa para pelacur pun senantiasa berinfak, membayar zakat, dan membantu keluarga. Di sini, penulis mencoba merasionalkan alasan dan tujuan para pelacur sebagai sebuah tuntutan dan tekanan hidup. Ia tidak melihat dampak yang dimunculkan dari pelacuran. Maka, penulis pun melihat positif-negatif dunia pelacuran ini tergantung pada perspektif yang digunakan, “Persoalan positif atau negatif adalah konstruksi orang tentang sesuatu berdasar atas pahamnya mengenai sesuatu itu. Oleh karena itu, untuk menyatakan bahwa sesuatu itu negatif atau positif juga sangat tergantung pada perspektif yang digunakan untuk melihatnya.”  Karena itu, baginya pelacuran merupakan suatu fenomena yang tidak dapat dipungkiri eksistensinya serta memiliki nilai positif dan negatif.

Walaupun dalam buku ini banyak ungkapan dan pernyataan tentang  agama, keyakinan, dosa, taubat, suci, dan ungkapan-ungkapan spiritualisme lainnya, tetapi penulis ingin menyampaikan kepada kita bahwa dunia pelacuran adalah benar-benar ada. Ia bahkan menjadi salah satu bentuk usaha yang dapat menghasilkan kekuatan ekonomi bangsa.

Selain akan menyebabkan tumbuh suburnya prostitusi di negeri ini,  pandangan tersebut adalah pandangan sekular (secular worldview). Pandangan seperti itu adalah sikap sekularisasi dalam agama. Sekular bukan hanya sekadar memisahkan agama dari politik, tetapi inti dari sekularisme adalah membuang makna-makna spiritual dari alam, etika, politik, dan agama. Artinya, ketika kita melihat suatu fenomena, kita tidak perlu mengaitkannya dengan keyakinan, agama, dan Tuhan. Namun, ia cukup dilihat sebagai sebuah fenomena yang bisa diindera.

Sekularisme tidak menolak agama dalam kehidupan, tetapi sekularisme melihat sebuah fenomena tidak dari kacamata agama. Agama cukup di hati. Agama adalah privasi seseorang. Inilah alasan mengapa pada zaman sekarang banyak orang yang ibadahnya rajin tetapi tetap melakukan kemaksiatan (Lihat Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam and Secularism,dan Wan Moh Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed. M. Naquib Al-Attas).

Inilah yang dikritik keras oleh Al-Attas, yaitu bahwa Ilmu pengetahun modern telah menjadikan kajian mengenai fenomena alam sebagai suatu tujuan akhir dan melihat sesuatu sebagai sesuatu itu sendiri, tanpa melihat makna di balik fenomena itu. Akhirnya, banyak para ilmuwan yang berpikir pragmatis dan matrealistis—seperti yang ada dalam buku ini.

 

Penggunaan Teori yang Keliru

Teori yang digunakan untuk menganalisis hubungan agama pelacur dan dunia sosialnya adalah teori dramaturgi. Teori ini dikenalkan oleh Erving Goffman. Ia melihat kehidupan sosial sebagai satu seri drama atau pertunjukan di mana para aktor memainkan peran-peran tertentu. Pada intinya dalam teori ini kehidupan sosial dibagi menjadi dua bagian: front stage (panggug depan) dan back stage (panggung belakang). Front Stage ini merupakan gambaran prilaku seseorang dalam kehidupan sosialnya, bagaimana orang tersebut memainkan peranannya sebagai salah satu bagian dari masyarakat sehingga dapat diterima oleh masyarakat.

Menurut Goffman, dalam front stage ini pada umumnya orang berusaha menampilkan sutau self atau diri yang diidealkan agar dapat diakui dan diterima masyarakat. Karena itu, menurut Goffman, dalam front stage ini mau tidak mau mereka harus menyembunyikan hal-hal tertentu dalam pertunjukan (performance), seperti menyembunyikan hal-hal yang bersifat negatif, tidak perlu menunjukkan usaha yang dilakukan untuk mencapai hasilnya, menyembunyikan cara-cara yang kotor dalam melakukan usahanya itu, dan hal-hal lainnya yang bisa merendahkan pertunjukan.

Sedangkan back stage adalah tempat atau situasi dimana seorang individu tidak perlu bertingkah laku sesuai dengan harapan-harapan orang dari situasinya itu. Misalnya, di dalam keluarga seorang tentara tidak harus memperlihatkan muka suram (Bernard Raho, SVD Teori Sosiologi Modern, 2007).

Dalam buku ini, penulis mengklasifikasikan bahwa menjual dirinya kepada lelaki hidung belang adalah bagian dari front stage. Sedangkan berdoa, bersedekah, dan mengikuti pengajian adalah back stage kehidupan pelacur.

Jika direnungkan dengan saksama, perbuatan mendagangkan diri dalam teori front stage dramaturgi justru prilaku yang dianggap hina, merusak, dan kotor oleh masyarakat. Apa yang mereka lakukan bukan dalam rangka menarik perhatian masyarakat atau para penonton secara umum, tetapi menarik cemoohan masyarakat. Seharusnya, jika penulis konsisten terhadap teori yang dibangunnya dalam melihat masalah ini, yang menjadi “front stage” adalah prilaku ketika mereka bersedekah, berpuasa, membayar zakat. Karena, perbuatan tersebut merupakan prilaku ideal masyarakat dan bisa menjadi daya tarik “para penonton”.

Sedangkan bagian back stage adalah tempat dimana para pelacur merasa enjoy dengan hal yang mereka lakukan, yaitu ketika terjun ke dunia “hitam”. Dengan demikian, teori yang digunakan dalam masalah ini sangat keliru. Kesimpulan yang dihasilkannya pun keliru.

Mungkin ada orang yang mengatakan bahwa hal tersebut tergantung kepada persepsi saja. Sebagaimana persepsi pelacur yang menilai perbuatannya sebagai perbuatan baik. Inilah pandangan sekular. Sebuah pandangan yang melihat fenomena cukup sebagai sesuatu yang dapat dilihat, dirasakan, dan dialami (empirical). Cara pandang seperti itu tidak melihat selalu ada makna di balik setiap fenomena. Implikasinya, segala hal menjadi relatif—tergantung dari mana seseorang melihat, merasa, mengalami.

Agar mendapatkan makna yang benar, fenomena tersebut seharusnya dimaknai dengan benar. Patokannya bukan pandangan orang-orang yang sama-sama membaca fenomena. Sebab, ia akan menjadi perdebatan panjang. Patokan yang benar seharus adalah petunjuk yang membuat fenomena tersebut, yaitu Allah.

Selain itu, teori dramaturgi akan membuat kehidupan seseorang terbelah menjadi dua: kepalsuan dan sejati. Tolok ukur positif tidaknya seseorang dalam kehidupan sosialnya pun adalah bagian back stage.

Walaupun kehidupan seseorang dalam masyarakatnya buruk, tetapi jika ia memiliki back stage yang baik, fenomena tersebut tidak perlu dikhawatirkan. Jika, misalnya, ada seseorang yang merampok, mencuri, dan melacur, tetapi selama ia berbuat baik terhadap sesama dan keluarganya, prilaku seperti itu tidak perlu disalahkan.

Jika cara pandang seperti itu yang digunakan, maka telah terjadi spilt personality. Itulah akibat ilmu sekular Barat yang selama ini dikhawatirkan Al-Attas dan telah merasuki tubuh umat Islam. Akibatnya, akn lahir manusia yang pada satu saat ia shalat di masjid, tetapi di saat yang lain ia melakukan maksiat di kantornya.

Ala kulli hal, melihat relasi agama pelacur dan dunia sosialnya dengan menggunakan teori dramaturgi atau teori-teori hanya yang menjunjung nilai kebenaran empirical saja hanya akan menambah runyam problem sosial. Ia bukan solusi, tetapi masalah. Dan ia hanya akan menimbulkan kemudaratan daripada kemasalahatan. Solusi yang paling benar adalah Islam. Islam adalah petunjuk. Sederhananya, jika seseorang dekat dari Islam, ia akan mendapatkan petunjuk. Sebaliknya, jika seseorang jauh dari Islam, ia akan tersesat.[] Wallahu a’lam bish-shawwab

 

 Tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah Risalah No 11 Th. 48 Shafar 1432 H/Februari 2011

4 responses to “Bahaya Agama Pelacur (Studi Kritik terhadap Buku Agama Pelacur)

  1. mereka para sekularis selalu melakukan pembenaran atas hal yg dilakukannya dengan menyalahkan kebenaran yg sebenarnya, dalam hal pelacuran diatas kita bisa simpulkan sendiri apa yg ada dipikiran penulis, pembenaran akan hal yg dilakukannya, bukan maksud berburuk sangka, tetapi ini murni kesimpulannya yg saya petik dr beberapa contoh lain dr perbuatan dan pemikiran para sekularis2 lainnya..

  2. Saya tidak membenarkan seorang perempuan memilih profesi sebagai pelacur, tetapi jujur,jika ada yg mau menjalaninya dengan alasan apapun, salut kalau mereka bisa menjalani kehidupan muram itu, dengan tentu saja, paham akan konsekwensi bagaimana masyarakat menilai mereka.Belum lagi bagaimana pun mrk hrs pasrah ketika mendapatkan ‘client’ dengan aneka macam permintaan,dan pergumulan bathin yang mengikutinya selama mrk hidup. Salut…salut..salut…

  3. agama merupakan persoalan yang transenden.
    memang benar, bahwasannya bukan tuhan yang butuh manusia melainkan manusia yang membutuhkan tuhan; hal tersebut sudah ditulis secara gamblang dalam buku agama pelacur, hanya saja penulis kritik memaksakan pemikirannya pada tulisannya demi sebuah peng-Aku-an.
    Jika saudara mau, jalan-jalan ke Dolly yuk….
    cukup dengan uang 100 ribu anda sudah dapat menyewa alat kelamin bekas.
    hahahaha

  4. Umar Abdul Jabbar

    cobalah berfikir dengan akal dibarengi nafsul muth’mainnah, perempuan mana seh yang mau jadi pelacur?. manusia tahu mana yg bruk dan mana yg baik. tentu kamu jwab tidak ada yg mau. tapi kenapa sekarang ada faktanya?
    ini jelas msalah pelacuran itu kompleks, karena sifatnya yg kompleks maka penanganannyapun harus melibatkan banyak pihak, tapi yg jelas msalah pelacuran tidak akan selesai dengan hanya itu haram dibenci tuhan, dosa, nanti masuk neraka. mereka para pelacurpun gak usah dibilangin gitu jg udh tau..
    mereka jg pnya rsa keberagamaan, jgn anggap mereka itu sampah, mereka justru harus kita tolong dengan mengajaknya dengan cara yg ma’ruf, lht apa yg positif dari mereka, pasti ada!
    kamu yg sok suci, plg paham agama, yg lain slah kalo gk sama dengan kamu..dengerin..!!! emg ada yg jamin nanti kamu mati husnul khotimah apa tidak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s