Membangun Peradaban

Insan Muhamadi

Kemajuan suatu bangsa tidak diukur dari struktur fisik yang berhasil didirikan. Sebab, struktur fisik hanyalah produk dari sebuah peradaban. Ia bukan hakikat dari peradaban itu sendiri. Pada saat ini kita bisa melihat negara-negara Arab yang memiliki bangunan-bangunan fisik sangat megah dan menakjubkan tetapi tidak dikenal sebagai negara yang memiliki peradaban maju. Sebab, bangunan-bangunan fisik itu tidak dibangun dari tradisi ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang mereka miliki. Mereka hanya membelinya dengan sumber daya alam minyak yang sangat berlimpah di bumi mereka. Kita pun bisa melihat peradaban Romawi yang sekarang tinggal puing-puing sejarah saja. Meskipun  sisa-sisa bangunan fisiknya yang megah itu masih bisa kita lihat, tetapi ia hanyalah puing-puing tak bernyawa. Ia tidak memiliki pancaran kehidupan lagi. Ibarat raga yang sudah kehilangan ruhnya, peradaban mereka telah mati.

Bangunan sebuah peradaban yang sesungguhnya terletak pada manusia-manusianya. Manusialah yang membangun sebuah peradaban. Manusia pula yang mempertahankan dan menjadikannya tetap hidup—bukan bangunan atau struktur fisiknya. Kehancuran dan kemundurannya pun demikian. Ia disebabkan oleh ketidakmampuan manusia-manusianya untuk menjaga kokohnya peradaban mereka.

 

Makna Peradaban

Peradaban berasal dari kata bahasa Arab, yaitu adab, yang berarti kebaikan sempurna  dan menyeluruh—baik spiritual ataupun material. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, penggagas islamisasi ilmu, memaknai orang beradab sebagai berikut:

“Orang yang beradab adalah orang yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab dirinya kepada  Tuhan; yang memahami dan menunaikan keadilan terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam masyarakatnya; yang terus berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kesempurnaan sebagai manusia yang beradab.”

Walaupun berasal dari bahasa Arab, istilah adab tidak mewakili makna peradaban dalam konsep dan istilah yang digunakan dalam bahasa Arab. Istilah peradaban justru sepadan dengan istilah tamaddun. Istilah ini berasal dari kata da-ya-na yang bermakna utang. Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi menjelaskan bahwa konsep tamaddun ini tidak bisa dilepaskan dari din (agama). Sebab, ia berasal dari akar kata yang sama.

Hamid menjelaskan bahwa manusia dalam jumlah yang banyak dan berkelompok selalu memerlukan seorang pemimpin yang disebut dayyan. Pemimpin yang tentu saja memiliki karakteristik pasrah pada hukum-hukum Allah. Din yang diamalkan dan diterapkan oleh sebuah komunitas di dalam suatu tempat disebut denan madinah. Dari madinah inilah lahir dan muncul kreasi-kreasi manusia yang kelak disebut dengan tamaddun. Maka dalam Islam, peradaban lahir dari agama dan merupakan konsekuensi dari keberutangan manusia kepada Allah yang telah memberikan segala nikmat kepadanya.

Dari uraian di atas, kita dapat menyimpulkan, bahwa peradaban adalah segala sesuatu yang lahir dan hidup dari cara pandang serta budaya orang-orang yang beradab, sebagai konsekuensi dari keberutangan mereka kepada Tuhannya. Artinya, peradaban tidak bisa dilepaskan dari keberagamaan orang-orangnya. Ia lahir dan tumbuh dalam cakupan maknanya. Peradaban Islam pun tidak bisa dilepaskan dari konsep din dan ibadah kepada Allah. Begitu juga peradaban-peradaban lain, ia tidak bisa dilepaskan dari konsep agama dan peribadatannya. Peradaban Romawi tidak bisa lepas dari Kristen, peradaban Mesir kuno tidak bisa dilepaskan dari paganisme, peradaban India tidak bisa dilepaskan dari agama Hindu, dan lain-lain.

 

Peradaban Islam Masa Kini

Peradaban Islam tidak bisa dilepaskan dari konsep ibadah kepada Allah. Ia lahir dari ajaran-ajaran yang tertuang dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah. Kemajuan dan kemundurannya tidak lepas dari hubungan kaum muslimin dengan keduanya. Jika ingin maju, berpeganglah kepada keduanya. Jika mundur, itu artinya kaum muslimin telah meninggalkan keduanya. Hal ini sesuai dengan wasiat Rasulullah saw dalam khutbah wada di Arafah,  “Hai manusia, sesungguhnya aku telah tinggalkan untuk kalian dua hal yang jika kalian berpegang kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat selamanya: Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR Al-Hakim)

Syakib Arselan dalam bukunya yang berjudul Limadza Taakhar Al-Muslimun wa Taqaddama Ghairuhum (Mengapa Umat Islam Mundur dan yang Lainnya Maju), menyimpulkan bahwa orang-orang Barat maju karena mereka meninggalkan agama, sedangkan umat Islam maju apabila mereka berpegang kepada agamanya. Dengan demikian, jika umat Islam ingin maju, mereka harus kembali kepada ajaran Islam.

Namun, kondisi umat Islam yang saat ini tertinggal dari negara Barat, sungguh jauh berbeda dengan keadaan ideal yang seharusnya dicapai. Dalam bidang ilmu pengetahuan dan capaian-capaian teknologi, umat Islam cukup jauh tertinggal. Begitu pula dalam bidang-bidang yang lainnya. Umat Islam saat ini gagal membangun sebuah peradaban yang maju. Padahal, dahulu umat Islam pernah berhasil mendirikan bangunan peradaban yang teramat kokoh dan megah, bahkan tidak mampu diikuti oleh umat mana pun saat itu. Kondisi sekarang ini tentu harus dicari jalan keluarnya.

Pada hakikatnya, kemajuan peradaban selalu berkaitan dengan maju mundurnya budaya keilmuan. Kemajuan yang dicapai Barat saat ini tidak lepas dari budaya ilmu yang berkembang lebih dahulu. Penemuan-penemuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengantarkan Barat kepada dominasi di segala bidang. Bahkan, penjajahan kepada berbagai negara di Asia dan Afrika pun merupakan kelanjutan dari penemuan-penemuan tersebut. Kemajuan ilmu pengetahuan membutuhkan sokongan dana yang sangat kuat melalui sumber daya alam yang kaya. Namun, sumber daya alam itu tidak dimiliki Barat. Maka, selain tujuan politik dan ekonomi, pengembangan ilmu pengetahuan menjadi salah satu alasan Barat menjajah negara-negara lain.

Sebenarnya Islam telah memberikan pondasi yang teramat kokoh untuk meraih kemajuan tersebut. Ayat yang pertama kali turun adalah ayat yang secara langsung memerintahkan kepada umat manusia untuk membaca. Hal tersebut belum ditambah dengan ayat-ayat lain yang secara tegas mengingatkan manusia untuk menghindari kebodohan dan mendorong untuk mencari ilmu. Kalimat-kalimat seperti “Mengapa kamu tidak berpikir,” “Mengapa kamu tidak menggunakan akal,” dan lain-lain sering kita dapatkan dalam Al-Quran. Di dalam hadits pun Rasulullah menyebutkan bahwa menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap Muslim (HR Ibnu Majah). Para penuntut ilmu disamakan dengan orang yang berjihad di jalan Allah. Bahkan, mereka telah Allah muliakan dengan diangkat beberapa derajat di atas kaum muslimin yang lain.

Pondasi yang teramat kokoh tersebut seharusnya mampu mendorong umat Islam membangun peradaban yang sangat maju. Sebab, ilmu yang dimaksud oleh Islam (Al-Quran dan Sunnah) tidak terbatas pada ilmu agama saja, tetapi mencakup segala jenis ilmu dan pengetahuan. Menurut Al-Attas, karena cakupan ilmu sangat luas, para ulama pun kemudian menyadari bahwa mendefinisikan ilmu secara hadd (terbatas) adalah mustahil. Al-Attas kemudian menjelaskan bahwa ilmu merupakan sesuatu yang tidak terbatas (limitless) dengan demikian ia tidak memiliki ciri-ciri spesifik dan perbedaan khusus yang bisa didefinisikan. Pemahaman mengenai istilah ilm selalu diukur oleh pengetahuan seseorang mengenai ilmu dan oleh sesuatu yang jelas baginya. Ketika medan ilmu sangat luas, maka pengetahuan seseorang terhadapnya sangat terbatas. Oleh karena itu, pemahaman ilmu dari masing-masing orang pasti terbatas.

Uraian di atas mengindikasikan dengan jelas bahwa ilmu dalam Islam adalah anugerah dari Allah serta bisa didapatkan dengan aktivitas belajar. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada manusia untuk mencarinya. Dan terbukti para ulama dahulu menguasai beragam ilmu. Fakhruddin Al-Razi (1149-1210 M), misalnya, menguasai Al-Quran, Hadits, tafsir, fiqih, ushul fiqih, sastra arab, perbandingan agama, logika, matematika, fisika, dan kedokteran. Bahkan, bukan hanya Al-Quran dan Hadits yang dihafal, beberapa buku yang sangat penting dalam bidang ushul fikih seperti Al-Shamil fi Ushul Al-Din karya Imam Al-Haramain Al-Juwaini, Al-Mu‘tamad karya Abu Al-Husain Al-Bashri dan Al-Mustasfa karya Al-Ghazali, telah dihafal oleh Fakhruddin Al-Razi.

Contoh yang lain adalah Ibn Sina. Seorang pendeta Kristen, G.C. Anawati, bahkan mengagumi penguasaan Ibn Sina terhadap ilmu pengetahuan. Ia menyatakan bahwa  sebelum meninggal, Ibnu Sina telah menulis kurang lebih 276 karya. Ia meliputi berbagai subjek ilmu pengetahuan seperti filsafat, kedokteran, geometri, astronomi, musik, syair, teologi, politik, matematika, fisika, kimia, sastra, kosmologi, dan sebagainya.

 

Solusi Pendidikan Islam

Dalam uraian di awal telah sedikit diulas bahwa membangun peradaban adalah membangun manusia-manusianya. Ia berarti membangun manusia-manusia yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab dirinya kepada  Tuhan; yang memahami dan menunaikan keadilan terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam masyarakatnya; yang terus berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kesempurnaan sebagai manusia yang beradab.

Manusia-manusia beradab ini hanya bisa lahir dari sistem pendidikan yang islami. Sistem pendidikan yang berdiri di atas pondasi Tauhid yang kokoh dan tidak lekang oleh waktu. Sistem pendidikan yang tidak memisahkan dirinya dari agama. Sistem pendidikan yang tidak hanya mendidik akal dan keterampilan, tetapi juga mendidik jiwa. Sistem pendidikan yang mencetak generasi ulama cendekiawan yang takut kepada Allah, bukan menentang hukum-hukum Allah.

Untuk membangun sistem pendidikan yang islami diperlukan perhatian dari seluruh umat Islam. Sebab, sistem pendidikan tersebut tidak akan meraih keberhasilan yang diinginkan jika tidak didukung oleh unsur-unsur di sekelilingnya. Sebaik apa pun sistem pendidikan, jika kondisi masyarakat tidak mendukung, ia akan membuat beberapa bagiannya rapuh. Dan, bagian yang rapuh ini akan menyebabkan rusaknya bagian yang lain. Oleh karena itu, dukungan lingkungan dan seluruh komponen masyarakat sangat dibutuhkan—demi tercapainya bangunan peradaban yang maju.

Ketika menjelaskan ayat 31 surat Al-Baqarah, dalam Tafsir Al-Kabir, Imam Fakhrurazi menyebutkan sebuah hadits Rasulullah, “Jadilah kamu orang mengajarkan ilmu, atau orang yang mencari ilmu, atau orang yang mendengarkan ilmu, atau orang yang mencintai ilmu. Dan janganlah kamu menjadi golongan yang ke lima, sebab kamu akan celaka.”

Hadits di atas menegaskan keharusan setiap orang berperan dalam pembangunan peradaban ilmu. Dan, pilihannya hanya ada empat: Pertama, menjadi pengajar yang membagikan ilmu. Kedua, menjadi penuntut ilmu yang tekun dan serius. Ketiga, menjadi pendengar ilmu di waktu-waktu senggang—bagi orang sibuk. Keempat, menjadi pecinta ilmu dengan membantu orang lain dalam mencari ilmu—baik dengan memberi bantuan materi atau hal yang lainnya. Lalu, menjadi golongan yang manakah kita? Wallahu a’lam bish-shawwab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s