Pendidikan yang Mengutamakan Akhlak

Oleh: Silmi Kapatan Inda Robby

 

Pendidikan adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Outcome dari sistem pendidikan adalah individu yang baik dan beradab, yang diyakini akan memberikan peran sebagai agent of change. Dari individu-individu itu diharapkan dapat melahirkan tatanan masyarakat yang baik dan beradab. Masyarakat yang mempunyai kadar intelektualitas dan spiritualitas yang tinggi.

Hal pertama yang harus dipahami dalam pendidikan adalah tujuan pendidikan dan karakteristik manusia. Sebab, ketidakpahaman terhadap tujuan pendidikan dan karakteristik manusia hanya akan menjadikan pendidikan sebagai sarana program trial and error. Hal tersebut akan menjadikan peserta didik sebagai kelinci percobaan. Pada gilirannya, dalam jangka panjang, hal tersebut akan mengancam eksistensi sebuah bangsa. Karena, generasi hasil pendidikan nasionalnya tidak mempunyai karakter yang kuat dan kepribadian yang tangguh.

Masyarakat yang dibentuk oleh nilai-nilai dan ideologi sekularistik-materialistik, misalnya, hanya akan melahirkan sumberdaya manusia (peserta didik) yang profit oriented. Mereka hanya berpikir keuntungan material semata. Hidup bagi mereka adalah perhitungan laba-rugi. Mereka selalu membawa “pembukuan” di benaknya dalam setiap interaksi sosial keseharian dengan manusia lainnya. Mereka adalah economic animal, hewan-hewan yang berkeliaran di pasar-pasar, di lantai bursa, dan di semua sudut kehidupan sambil membawa “kalkulator” untuk menghitung keuntungan hasil transaksi sosial mereka.

Di sini masyarakat harus mendorong pemerintah untuk merumuskan arah kebijakan pendidikan nasional tentang landasan worldview pendidikan. Standarisasi arah kebijakan pendidikan nasional ini untuk memastikan bahwa tujuan pendidikan nasional yang luhur itu memang bisa dicapai. Bukan angan-angan yang terlintas di awang-awang.

 

Membangun Keseimbangan

Semua negara tentu mempunyai rencana strategis dengan menjadikan pendidikan sebagai bagian dari prioritas pembangunan. Karena tempat paling tepat untuk membangun manusia adalah pendidikan.

Sulit dipungkiri bahwa paradigma pendidikan di Indonesia telah bergeser ke arah sistem materialistik-kapitalistik-sekularistik. Oleh sebab itu, tidak mengherankan kalau terjadi fenomena kemerosotan nilai-nilai moral dan spiritual di kalangan masyarakat Indonesia saat ini. Evaluasi hasil pendidikan dan indeks prestasi yang berupa angka-angka hanya akan melahirkan lulusan lembaga pendidikan yang berorientasi kerja, mencari uang, berkeluarga, untuk kemudian mati.

Lembaga pendidikan di Indonesia sebagian besar hanya menghasilkan lulusan yang tidak memiliki kesadaran kritis untuk menjadi manusia yang memiliki keluhuran budi, kekuatan akhlakul karimah, dan kemandirian. Yang muncul justru orang-orang yang rendah emosional spiritual. Meskipun mereka mempunyai kualitas yang tinggi dalam penguasaan iptek. Pendek kata, keberhasilan pendidikan saat ini tidak mampu membangun jati diri peserta didik sebagai generasi tangguh Indonesia, seperti yang diamanatkan dalam rumusan pasal 3 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Sekularisasi pendidikan ini telah dimulai sejak adanya dua kurikulum pendidikan yang dikeluarkan oleh dua kementerian (departemen) yang berbeda, yakni kemenag dan kemendiknas. Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan iptek berada di wilayah bebas nilai (value free) sehingga sama sekali tidak tersentuh standar nilai agama. Kalaupun ada ia hanya berupa etika atau moral yang tidak bersandar pada nilai agama, tetapi pada nilai-nilai hasil kesepakatan manusia yang relatif. Sementara pembentukan karakter peserta didik, yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan, justru kurang tergarap secara serius. Pendidikan yang materialistik memberikan kepada peserta didik suatu basis pemikiran yang serba terukur secara material serta memungkiri hal-hal yang bersifat non-material. Dan ini menjadi wilayah kerja kemendiknas.

Di lain pihak, urusan agama diserahkan kepada kemenag yang mengelola lembaga pendidikan berciri khas keagamaan, misalnya Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah. Tapi pada kenyataannya, lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola oleh kemenag pun menyandarkan hasil akhir proses pendidikan peserta didik pada angka, yang menjadi indikator penilaian yang paling valid, objektif, dan representatif bagi kecerdasan peserta didik.

Walhasil, dalam memperlakukan peserta didik, kemenag dan kemendiknas hanya berbeda ketika berangkat saja, sedangkan garis finish-nya hampir sama, yakni menjadikan angka sebagai indikator kelulusan. Bukan beriman dan bertakwa kepada Allah, dan berperilaku atau berakhlak mulia. Padahal, tiga poin itulah (iman, takwa, akhlak mulia) awal tujuan pendidikan nasional.

 

Adab sebagai Tujuan Pendidikan

Karena yang dididik dalam prkatik pendidikan adalah manusia, maka pertanyaan yang muncul adalah, “Manusia yang bagaimana, yang hendak dibentuk melalui pendidikan tersebut?”

Syed Muhammad Naquib Naquib al-Attas (1980: 48-52) menjelaskan bahwa tujuan pendidikan dalam Islam adalah menghasilkan manusia yang beradab (good man), yakni manusia yang bijak, yang mampu mengenali dan mengakui segala tata tertib realitas, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan keperiadaan-Nya.

Ahmad Marimba (1989: 39) berpendapat bahwa tujuan pendidikan dalam Islam secara umum adalah terbentuknya manusia yang berkepribadian muslim, yakni berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Sedangkan menurut Abdul Fattah Jalal (1988), tujuan umum pendidikan Islam adalah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah (‘abdullah) yang beribadah kepada-Nya.

Menjadikan peserta didik beradab merupakan sebuah keharusan. Hanya dengan adab-lah, karakter bangsa akan terbentuk sempurna. Manusia-manusia Indonesia akan menjadi insan kamil, yaitu manusia yang beraktivitas sesuai dengan fitrahnya.

Dalam pendidikan Islam, Nabi Muhammad adalah model insan kamil. Beliau sempurna dalam semua aspek insaniah-nya. Bukan hanya secara fisik saja beliau sempurna, tapi juga emosional dan spiritual. Inilah yang membuat akhlak beliau menjadi sangat mulia. Manusia kemudian didorong untuk meneladani beliau. Sebab, beliau telah dijadikan Allah sebagai uswatun hasanah, teladan yang paling baik bagi manusia. Dan, salah satu tugas utama beliau sebagai rasul adalah untuk menyempurnakan akhlak.

Pemahaman yang utuh seperti di atas seharusnya dipahami dengan baik oleh umat Islam. Dengan demikian, akhlak menjadi tujuan paling urgen dalam praktik pendidikan Islam. Dari pendidikan seperti itulah, akan lahir sosok-sosok ilmuwan pewaris para ajaran Nabi dan yang takut kepada Allah.

One response to “Pendidikan yang Mengutamakan Akhlak

  1. Semoga menjadi pencerahan bagi dunia pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s