Krisis Nilai Bangsa

Oleh: Arif Munandar Riswanto

 

Indonesia pada saat ini memang sedang mengalami krisis nilai (value crisis) yang begitu hebat. Padahal, konon katanya bangsa kita dahulu dikenal sebagai bangsa yang memiliki nilai-nilai luhur. Karena tatanan nilai yang dianut sedang rapuh, karakter dan watak bangsa ini pun mengalami kerapuhan. 34 Tahun yang lalu, yaitu pada tanggal 6 April 1977, dalam salah satu ceramah di Taman Ismail Marzuki (TIM), Mochtar Lubis pernah menyatakan bahwa sifat-sifat bangsa Indonesia adalah: (1). Munafik. (2). Tidak mau bertanggung jawab. (3). Berjiwa feodal. (4). Percaya takhayul. (5). Lemah karakter. (6). Boros (Jakarta, 2001: 18-35). Sebuah watak yang benar-benar mencitrakan bahwa tatanan nilai bangsa ini memang sedang keropos.

Kondisi seperti itu diperburuk dengan semakin berkembangnya arus teknologi dan informasi. Perkembangan tersebut justru menjadi alat yang bisa mengikis nilai-nilai bangsa dengan sangat mudah. Lihat saja, di layar kaca, setiap hari kita disuguhi berbagai tayangan yang secara tidak sadar justru mengikis nilai-nilai luhur kebangsaan. Debat para politisi yang membahas tentang tema-tema korupsi, misalnya, hampir setiap hari disiarkan secara live di layar kaca. Setiap kelompok kemudian membela argumentasinya dengan bungkusan “ilmiah” dan “data-data otentik”. Padahal, sudah diyakini, salah satu di antara dua kelompok tersebut pasti pembohong. Namun, karena kejujuran menjadi nilai yang hilang, setiap anak bangsa kemudian tidak bisa menjunjung tinggi nilai tersebut—hingga menjadi akhlak hidup.

Tidak jarang, dalam acara tersebut, ucapan-ucapan penuh fitnah, adu domba, dan hasud keluar tanpa disadari. Padahal, perkara-perkara seperti itu seharusnya masuk ke dalam domain pengadilan, bukan berita yang bisa diakses oleh publik secara liar. Namun, karena media massa lebih mementingkan profit-materi, acara-acara seperti itu kemudian menjadi menu favorit masyarakat kita. Secara tidak sadar, anak-anak kita kemudian ditanamkan nilai-nilai buruk yang ada dalam tayangan-tayangan seperti itu.

Masalah Manusia

Permasalahan mendasar krisis nilai yang melanda bangsa kita bukan terletak pada sistem dan birokrasi, tetapi pada manusia. Manusia-manusia Indonesia sudah jauh dari nilai-nilai fitrah sebagai makhluk Allah, yaitu makhluk yang memiliki potensi hewani (an-nafs al-hayawaniyyah) dan potensi rasional (an-nafs an-nathiqah). Akibatnya, karena telah jauh dari fitrah, potensi hewani kemudian yang memimpin potensi rasional. Padahal, Al-Quran telah menjelaskan, bahwa manusia yang potensi rasionalnya (ruhani) dipimpin oleh potensi hewani (jasad), tidak ubahnya seperti binatang. Bahkan, lebih sesat dari binatang (QS 7: 179).

Jika kita ingin memberantas korupsi, solusi yang paling tepat bukan dengan mendirikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saja. Bahkan, jika seribu KPK didirikan sekalipun, korupsi tidak akan hilang dari bangsa ini. Termasuk masalah isu reshuffle kabinet yang dahulu pernah menjadi perbincangan hangat. Jika bangsa ini ingin memiliki pejabat-pejabat yang amanah terhadap jabatan, solusinya bukan dengan cara me-reshuffle kabinet, tetapi dengan cara menyiapkan manusia-manusia yang baik (good man). Sebab, meskipun kabinet harus di-reshuffle satu juta kali, tetapi jika potensi-potensi fitrah manusia yang ada dalam diri pejabat tidak diperbaiki, pejabat-pejabat yang amanah sulit untuk didapatkan. Mendirikan KPK dan me-reshuffle kabinet memang bisa mendatangkan solusi, tetapi solusi temporal dan superfisial.

Hal paling mendasar yang merusak manusia-manusia Indonesia adalah rakus terhadap dunia. Pejabat, media massa, pendidikan, guru, murid, rakyat, artis, tokoh agama, politik, ekonomi, dan budaya kita banyak yang hanya menjadikan dunia sebagai tujuan paling luhur. Padahal, jauh-jauh hari, Rasulullah Saw telah mewanti-wanti sifat dan watak tersebut. Dalam hadis riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah, Rasulullah pernah mewanti-wanti sebuah kondisi ketika umat Islam akan diperebutkan oleh musuh-musuhnya. Ketika itu, kuantitas umat Islam yang sangat banyak—sebagaimana terjadi di Indonesia—tidak bisa menjadi energi kuat untuk melawan keadaan tersebut. Bahkan, musuh-musuh Islam tidak takut ketika berhadapan dengan umat Islam. Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa ketika itu, umat Islam sedang menderita wahn. Beliau lalu menerangkan bahwa wahn adalah cinta dunia dan takut mati.

Belajar kepada Imam Al-Ghazali

Menyiapkan manusia-manusia Indonesia yang baik memang bukan pekerjaan mudah dan singkat, tetapi pekerjaan yang panjang. Dan, biasanya, usaha tersebut harus ditempuh melalui jalur pendidikan, bukan politik dan aksi-aksi yang bersifat sesaat. Sebagaimana hal tersebut pernah dilakukan oleh Imam Al-Ghazali.

Fakta-fakta tentang keberhasilan Imam Al-Ghazali dalam menyiapkan manusia-manusia baik telah dicatat dengan sangat detil oleh Dr. Majid Irsan Al-Kilani dalam bukunya yang berjudul Hakadza Zhahara Jil Shalahuddin wa hakadza ‘Adat Al-Quds (Dar Al-Qalam, Uni Emirat Arab: 2002). Dalam bukunya tersebut, Al-Kilani menjelaskan dengan sangat detil bagaimana usaha Al-Ghazali dalam memperbaiki manusia-manusia yang ada pada zamannya melalui jalur pendidikan. Sehingga, dari usahanya tersebut, lahir generasi Shalahuddin Al-Ayyubi yang sangat tangguh.

Zaman yang dihadapi oleh Al-Ghazali adalah zaman yang tidak menentu. Kondisi yang ada ketika itu memang layak menyeret umat Islam ke dalam jurang kekalahan. Puncaknya, umat Islam kemudian dicabik-cabik dalam Perang Salib. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Islam pun lenyap ditelan gelombang kehidupan yang konsumtif dan destruktif. Para pejabat publik sibuk dengan kepentingan pribadi dan kelompok, kaum ilmuwan mengabdikan ilmunya untuk kepentingan-kepentingan sekular, umat Islam tercabik oleh perpecahan dan fanatisme buta, akhlak manusia hancur, kemiskinan ada di mana-mana, dan ilmu menjadi rusak.

Al-Ghazali kemudian mendiagnosa penyakit-penyakit umat ketika itu. Berbagai buku yang ditulis oleh Al-Ghazali sepanjang hidupnya menjadi bukti bagaimana tajamnya diagnosa yang dilakukan olehnya. Menjelang akhir hayatnya, diagnosa tersebut kemudian diterjemahkan oleh Al-Ghazali melalui lembaga pendidikan dengan kurikulum yang dia rancang sendiri. Kelak, dari lembaga pendidikan tersebut muncul generasi-generasi tangguh seperti Abdul Qadir Al-Jilani dan Shalahuddin Al-Ayyubi. Jadi, Shalahuddin Al-Ayyubi bukan sosok yang dilahirkan dari produk politik yang temporal—sebagaimana yang selama ini sering dipahami oleh banyak orang. Namun, Shalahuddin lahir melalui proses kreatif panjang para ilmuwan, guru, ilmu, dan pendidikan.

Jawaban yang paling tepat untuk menghadapi krisis nilai bangsa yang hebat sekarang ini adalah pendidikan. Namun, tentu saja bukan pendidikan yang hanya berorientasi pada tujuan-tujuan sekular—yang hanya mendidik potensi-potensi hewani dalam diri manusia. Akan tetapi, pendidikan yang juga bisa mendidik potensi rasional manusia. Pendidikan yang bisa mengembalikan manusia kepada fitrahnya sebagai makhluk dan khalifah di muka bumi. Pendidikan seperti itu telah dielaborasi dengan sangat detil oleh Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas dalam istilah ta’dib. Ilmu (makna, sumber, hierarki, saluran, jenis, hukum, dan tujuan), guru (otoritas, adab), adab, dan kurikulum dalam pendidikan harus benar-benar dirancang untuk melahirkan manusia-manusia Indonesia yang baik. Namun, yang jadi pertanyaan kita sekarang adalah, apakah pendidikan kita sudah benar-benar bisa menjadi tempat paling tepat untuk menyiapkan manusia-manusia baik yang bisa menghadapi krisis nilai bangsa yang sangat akut ini? Wallahu A’lam.

One response to “Krisis Nilai Bangsa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s