Ulama

Oleh: Arif Munandar Riswanto

Berbicara tentang ulama adalah berbicara tentang peran dan kedudukan penting di dalam ajaran Islam. Disebut penting karena banyak hal fundamental yang hanya diberikan oleh Allah dan Rasulullah kepada ulama tetapi tidak diberikan kepada yang lain—termasuk kepada umara. Ulama didaulat oleh Rasulullah sebagai satu-satunya “kelompok” manusia yang meneruskan risalah perjuangan para Nabi. Ulama pun memiliki kedudukan istimewa di hadapan Allah sebagai satu-satunya kelompok manusia yang memiliki derajat tinggi (QS 58: 11). Bersama Allah dan para malaikat, ulama memberikan kesaksian tentang keesaan Allah (QS 3: 18). Bahkan, ulama kemudian dijamin oleh Allah sebagai satu-satunya kelompok manusia yang takut kepada-Nya (QS 35: 28). Lalu, siapakah ulama itu?

Ulama adalah bentuk jama’ dari kata ‘alim. Sedangkan kata ‘alim adalah isim fa’il dari kata ‘ilm (ilmu). Jadi, berbicara tentang ulama adalah berbicara tentang ilmu. Secara sederhana, ulama adalah orang yang memiliki ilmu. Jika ulama adalah orang yang memiliki hubungan erat dengan ilmu, kita kemudian bertanya, apakah ilmu itu?

Banyak definisi yang menjelaskan tentang makna ilmu. Al-Jurjani dalam At-Ta’rifat menjelaskan beberapa definisi ilmu. Di antara definisi yang dijelaskan olehnya adalah “Keyakinan pasti yang sesuai dengan kenyataan,” “Mendapatkan gambaran sesuatu di dalam akal,” “Mengetahui sesuai dengan benar,” “Hilangnya kesamaran dari yang diketahui,” “Datangnya jiwa kepada makna sesuatu.”

Hal yang menarik adalah definisi yang dijelaskan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Al-Attas menjelaskan bahwa ilmu adalah, “Tibanya makna ke dalam diri dan tibanya diri ke dalam makna.” Namun, menurut Al-Attas, definisi ilmu tersebut (yang mengakibatkan pengenalan/recognition) tidak akan bermanfaat jika tidak disertai dengan pengakuan (acknowledgement). Dalam bahasa sederhana, pengakuan adalah amal saleh. Sebab, pengenalan tanpa pengakuan adalah kebodohan (jahil). Sedangkan pengakuan tanpa pengenalan adalah kesombongan (seperti iblis). Inilah yang menjadi alasan mengapa dalam banyak ayat Allah senantiasa menyandingkan iman dengan amal saleh.

Islam telah menerangkan peran dan kedudukan ilmu dengan sangat jelas. Makna, sumber, hierarki, saluran, jenis, hukum, pahala, dan tujuan dalam ilmu telah sangat gamblang diterangkan oleh Islam. Bahkan, Islam pun telah menjelaskan tentang niat, doa, dan adab dalam mencari ilmu. Itulah yang menjadi alasan banyak ulama yang menulis buku tentang ilmu. Tidak berlebihan jika disebutkan bahwa tradisi seperti itu hanya ada dalam agama Islam.

Salah Memahami Ilmu

Al-Attas pernah menjelaskan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi oleh umat Islam pada zaman sekarang adalah tantangan ilmu. Namun, tantangan ilmu tersebut bukan berarti tantangan melawan buta huruf, tetapi tantangan dalam bentuk ilmu-ilmu sekular yang datang dari peradaban Barat. Ilmu-ilmu sekular tersebut kemudian menguasai akal dan pendidikan umat Islam. Al-Attas menulis, “I venture to maintain that the greatest challenge that has surreptitiously arisen in our age is the challenge of knowledge, indeed, not as against ignorance; but knowledge as conceived and disseminated throughout the world by Western civilization.”

Tantangan ilmu adalah tantangan ulama. Sebab, hanya ulama yang bisa menjawab tantangan ilmu. Namun, yang jadi pertanyaan kita, apakah orang-orang yang selama ini disebut “ulama” menyadari tantangan tersebut?

Kita tidak bisa menafikan, akibat sekularisasi yang terjadi pada akal umat Islam, banyak umat Islam yang salah memahami ilmu. Lebih parahnya lagi, kesalahan tersebut kemudian diterapkan dalam sistem pendidikan. Inilah yang mengakibatkan peradaban Islam masih terpuruk sampai saat sekarang. Padahal, setiap tahun perguruan-perguruan tinggi banyak meluluskan ahli-ahli dalam bidang kedokteran, politik, ekonomi, psikologi, pendidikan, linguistik, seni, dan lain sebagainya.

Salah satu kesalahan paling fatal yang terjadi pada akal umat Islam adalah ketika ilmu dipahami sebatas sains saja. Padahal, anggapan tersebut adalah keyakinan khas masyarakat Barat yang memiliki kebencian terhadap agama. Keyakinan seperti itu telah mengeliminasi wahyu sebagai salah satu sumber ilmu dan hanya menganggap panca indera sebagai satu-satunya alat paling absah untuk mendapatkan ilmu. Dugaan dan keraguan kemudian dianggap sebagai satu-satunya metode yang absah dalam mendapatkan ilmu. Padahal, dugaan dan keraguan bertentangan dengan hakikat dan makna ilmu. Sebab, hakikat ilmu yang sebenarnya adalah harus memberikan keyakinan dan kebenaran, bukan keraguan dan kebingungan.

Tidak aneh jika anak didik yang dilahirkan dari ilmu dan pendidikan seperti itu akan menjadi individu yang penuh kebingungan. Ilmu-ilmu sekular yang lebih menitikberatkan kepada skil-skil psikomotorik kemudian dianggap sebagai ilmu paling mulia.

Kesalahan fatal selanjutnya pada akal umat Islam modern adalah ketika “ilmu Islam” hanya dibatasi pada ilmu-ilmu fiqih. Memang betul, ilmu fiqih termasuk salah satu cabang ilmu hasil kreasi para ulama. Namun, ia hanya salah satu cabang saja, bukan segala-segalanya. Ada banyak permasalahan dan tantangan yang dihadapi oleh umat Islam tetapi tidak bisa dijawab dengan fiqih.

Akibat yang keliru dalam memahami ilmu, kita sering menisbatkan ulama kepada orang-orang yang ahli dalam bidang fiqih saja. Padahal, kalau kita renungkan ayat-ayat Allat tentang kedudukan ulama, seluruh ayat tersebut justru menerangkan “dimensi spiritual” dalam ilmu (seperti takut kepada Allah dan memberikan kesaksian tentang keesaan Allah), bukan dimensi fiqih. Inilah yang kemudian disayangkan oleh Al-Attas. Menurut Al-Attas, pandangan seperti itu pada hakikatnya memerosotkan makna ilmu. Lihat saja para ulama kita dahulu. Apakah Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, Ibnu Rusyd, Imam Haramain, Ibnul Jauzi, Al-Khathib Al-Bahgdadi, Ibnu Hazm, Abul Hasan Al-Asy’ari, Asy-Syahrastani, Al-Biruni, Ibnul Atsir, Al-Khawarizmi, dan lain sebagainya bukan ulama sebab mereka tidak hanya menulis fiqih tetapi menulis juga filsafat, tasawuf, ilmu kalam, mantik, kedokteran, perbandingan agama, dan sejarah?

Jika dikaitkan dengan dunia pendidikan, sungguh indah pesan Rasulullah tentang kedudukan ulama sebagai pewaris ajaran para nabi. Pesan tersebut erat kaitannya dengan guru. Guru sebagai sosok pendidik seharusnya adalah sosok ulama juga. Sebab, ia memiliki “profesi” yang ada kaitannya dengan ilmu. Namun, saya yakin, selain kualitas untuk menjadi ulama sangat jauh, banyak guru yang tidak memiliki pemikiran seperti itu.

Hal tersebut belum ditambah dengan tujuan-tujuan sekular yang ada dalam benak para guru. Tujuan dari “profesi” guru adalah mendapatkan gaji besar, menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan telah disertifikasi oleh negara (bukan oleh guru). Aktifitas guru pun seolah-olah seperti karyawan dalam sebuah perusahaan yang bernama sekolah. Pergi pagi dan pulang sore. Tidak lebih dan tidak kurang. Guru seperti itu banyak yang berhenti dalam mencari ilmu. Jangankan untuk melakukan riset dan membuat karya ilmiah, untuk membaca saja banyak yang malas. Akibatnya, ilmunya tidak bertambah.

Tujuan-tujuan sekular yang menggerogoti dunia pendidikan pun akhirnya menjadi inti yang harus dilakukan guru. Manusia seperti itu tentu saja sangat jauh jika harus diidentikan sebagai pewaris ajaran para nabi. Terlebih lagi manusia yang memiliki rasa takut kepada Allah. Al-Ghazali menyebut orang-orang seperti itu sebagai ulama dunia (‘ulama dunya), yaitu “Ulama buruk yang tujuan dari ilmu yang dimilikinya adalah untuk mendapatkan kesenangan dunia, jabatan, serta kedudukan.”

Kehilangan fungsi ulama dalam kehidupan sama dengan kehilangan fungsi para nabi. Jika hal tersebut terjadi, yang menjadi pemimpin dalam kehidupan adalah orang-orang bodoh yang sesat dan menyesatkan. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menghilangkan ilmu dengan cara mencabutnya dari manusia. Namun, Allah akan menghilangkan ilmu dengan mencabut (mematikan) ulama. Hingga ketika tidak ada orang berilmu, manusia akhirnya mengambil pemimpin-pemimpin bodoh. Mereka (pemimpin-pemimpin bodoh) tersebut kemudian ditanya (oleh orang-orang). Mereka (pemimpin-pemimpin bodoh) tersebut kemudian memberikan fatwa. Namun, mereka sesat dan menyesatkan” (HR Al-Bukhari). Jika ulama telah tiada, siapa yang akan memberikan petunjuk dalam kehidupan ini? Wallahu a’lam

One response to “Ulama

  1. pencari kebenaran

    Problem hubungan agama dengan ilmu.(rahasia untuk menemukan dua bentuk konsep kebenaran yang berbeda yang saling berbenturan satu sama lain )

    Sebelum kita berbicara secara panjang lebar seputar hubungan antara agama dengan ilmu dengan segala problematika yang bersifat kompleks yang ada didalamnya maka untuk mempermudah mengurai benang kusut yang terjadi seputar problematika hubungan antara agama dengan ilmu maka kita harus mengenal terlebih dahulu dua definisi pengertian ‘ilmu’ yang jauh berbeda satu sama lain,yaitu definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan dan versi sudut pandang manusia yang lahir melalui kacamata sudut pandang materialist.
    Pertama adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang materialistik yang kita kenal sebagai ‘saintisme’ yang membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’,(sehingga bila mengikuti definisi saintisme maka otomatis segala suatu yang bersifat abstrak – gaib yang berada diluar wilayah pengalaman dunia indera menjadi tidak bisa dimasukan sebagai wilayah ilmu).faham ini berpandangan atau beranggapan bahwa ilmu adalah ‘ciptaan’ manusia sehingga batas dan wilayah jelajahnya harus dibingkai atau ditentukan oleh manusia.
    Kedua adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan yang mengkonsepsikan ‘ilmu’ sebagai suatu yang harus bisa mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit sehingga dua dimensi yang berbeda itu bisa difahami secara menyatu padu sebagai sebuah kesatuan system.pandangan Ilahiah ini menyatakan bahwa ilmu adalah suatu yang berasal dari Tuhan sehingga batas dan wilayah jelajahnya ditentukan oleh Tuhan dan tidak bisa dibatasi oleh manusia,artinya bila kita melihatnya dengan kacamata sudut pandang Tuhan dalam persoalan cara melihat dan memahami ‘ilmu’ manusia harus mengikuti pandangan Tuhan.
    Bila kita merunut asal muasal perbedaan yang tajam antara konsep ilmu versi saintisme dengan konsep ilmu versi Tuhan sebenarnya mudah : kekeliruan konsep ‘ilmu’ versi saintisme sebenarnya berawal dari pemahaman yang salah atau yang ‘bermata satu’ terhadap realitas,menurut sudut pandang materialist ‘realitas’ adalah segala suatu yang bisa ditangkap oleh pengalaman dunia indera,sedang konsep ‘realitas’ versi Tuhan : ‘realitas’ adalah segala suatu yang diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi ‘ada’,dimana seluruh realitas yang tercipta itu terdiri dari dua dimensi : yang abstrak dan yang konkrit,analoginya sama dengan realitas manusia yang terdiri dari jiwa dan raga atau realitas komputer yang terdiri dari software dan hard ware.
    Berangkat dari pemahaman terhadap realitas yang bersifat materialistik seperti itulah kaum materialist membuat definisi konsep ilmu sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’ dan metodologi ilmu dibatasi sebatas sesuatu yang bisa dibuktikan secara empirik.
    Ini adalah konsep yang bertentangan dengan konsep dan metodologi ilmu versi Tuhan,karena realitas terdiri dari dua dimensi antara yang konkrit dan yang abstrak maka dalam pandangan Tuhan (yang menjadi konsep agama) konsep ‘ilmu’ tidak bisa dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia indera dan metodologinya pun tidak bisa dibatasi oleh keharusan untuk selalu terbukti langsung secara empirik oleh mata telanjang,sebab dibalik realitas konkrit ada realitas abstrak yang metodologi untuk memahaminya pasti berbeda dengan metodologi untuk memahami ilmu material (sains),dan kedua : manusia bukan saja diberi indera untuk menangkap realitas yang bersifat konkrit tapi juga diberi akal dan hati yang memiliki ‘mata’ dan pengertian untuk menangkap dan memahami realitas atau hal hal yang bersifat abstrak.dimana akal bila digunakan secara maksimal (tanpa dibatasi oleh prinsip materialistik) akan bisa menangkap konstruksi realitas yang bersifat menyeluruh (konstruksi yang menyatu padukan yang abstrak dan yang konkrit),dan hati berfungsi untuk menangkap essensi dari segala suatu yang ada dalam realitas ke satu titik pengertian.

    Mengapa bisa terjadi sesuatu yang dianggap sebagian manusia sebagai ‘benturan antara agama dengan ilmu’ (?) bila dilihat dengan kacamata Ilahi sebenarnya bukan terjadi benturan antara agama dengan ilmu sebab baik agama maupun ilmu keduanya adalah dua aspek yang saling mengisi satu sama lain yang mustahil berbenturan,sebab ada saling ketergantungan yang mutlak antara keduanya.benturan itu terjadi lebih karena faktor kesalah fahaman manusia termasuk karena kesalahan manusia dalam membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagaimana yang dibuat oleh saintisme itu.
    Bila kita runut fitnah benturan antara agama dengan ilmu itu terjadi karena berbagai sebab,pertama : manusia membatasi definisi pengertian ‘ilmu’ diseputar wilayah dunia indera,sebaliknya agama tidak membatasi wilayah ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera (karena ilmu harus mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang lahiriah-konkrit) sehingga otomatis ilmu yang di persempit wilayah jelajahnya (sehingga tak boleh menjelajah dunia abstrak) itu kelak akan menimbulkan banyak benturan dengan agama.jadi yang berbenturan itu bukan agama vs ilmu tapi agama versus definisi pengertian ‘ilmu’ yang telah dipersempit wilayah jelajahnya.
    Dan kedua : fitnah benturan ‘agama vs ilmu’ terjadi karena ada banyak ‘benalu’ didunia sains yang mengatasnamakan sains padahal ia cuma teori belaka yang bersifat spekulatif kemudian teori itu dibenturkan dengan agama sehingga orang awam melihatnya seperti ‘benturan agama dengan ilmu’ (padahal itu hanya fitnah).untuk dihadapkan dengan agama sains harus bersih dari teori khayali artinya sains tak boleh diwakili oleh teori yang tidak berdasar kepada fakta seperti teori Darwin,sebab bila saintis membuat teori yang tak sesuai dengan kenyataan otomatis pasti akan berbenturan dengan agama sebab konsep agama berlandaskan kepada realitas yang sesungguhnya (yang telah Tuhan ciptakan sebagaimana adanya).
    Dalam konsep Tuhan ilmu adalah suatu yang memiliki dua kaki yang satu berpijak didunia abstrak dan yang satu berpijak didunia konkrit,dan konsep ilmu seperti itu akan bisa menafsirkan serta merekonstruksi agama.sebaliknya konsep ilmu versi kaum materialistik hanya memiliki satu kaki yang hanya berpijak didunia konkrit yang bisa dialami oleh pengalaman dunia indera sehingga dengan konsep seperti itu otomatis ilmu akan menjadi seperti sulit atau tidak bisa menafsirkan serta merekonstruksi agama.
    Jadi bila ada fihak yang memprovokasi seolah ada ‘benturan antara agama versus ilmu’ maka kita harus analisis terlebih dahulu secara ilmiah jangan menelannya secara membabi buta,apalagi dengan bersikap a priori terhadap agama.kasus Darwin sama sekali bukan benturan antara agama vs ilmu tapi antara teori ‘ilmiah’ yang tidak berdasar fakta vs deskripsi kitab suci,begitu pula kasus Galileo itu bukan benturan agama vs ilmu tapi antara temuan ilmuwan vs penafsiran pendeta terhadap kitab sucinya yang belum tentu tepat,(tidak ada ayat kitab suci yang secara astronomis menyatakan bumi sebagai pusat galaksi tata surya dan harus difahami saat itu pendeta melihatnya dari kacamata sudut pandang ‘filosofis’).
    ‘ilmu’ dalam saintisme ibarat kambing yang dikekang oleh tali pada sebuah pohon ia tak bisa jauh melangkah karena dibatasi wilayah jelajahnya harus sebatas wilayah pengalaman dunia indera sehingga ‘yang benar’ secara ilmiah menurut saintisme adalah segala sesuatu yang harus terbukti secara empirik (tertangkap mata secara langsung), dengan prinsip inilah kacamata saintisme menghakimi agama sebagai sesuatu yang ‘tidak berdasar ilmu’.
    Bandingkan ; dalam agama wilayah jelajah ilmu itu luas tidak dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi sebab itu ‘ilmu’ dalam agama bisa merekonstruksikan realitas secara keseluruhan baik yang berasal dari realitas yang abstrak (yang tidak bisa tertangkap mata secara langsung) maupun realitas konkrit (yang bisa tertangkap oleh mata secara langsung),jadi ilmu dalam agama tidak seperti kambing yang dikekang.
    Kemudian bila yang dimaksud ‘ilmu’ oleh kacamata sudut pandang saintisme adalah apa yang mereka sebut sebagai ‘sains’ maka itu adalah pandangan yang keliru,sebab untuk mendefinisikan apa itu ‘sains’ kita harus berangkat dari dasar metodologinya,bila metodologi sains adalah metode empirisme dimana parameter kebenaran ilmiah nya adalah bukti empirik maka kita harus mendefinisikan ‘sains’ sebagai ‘ilmu seputar dunia fisik-materi’ sebab hanya dunia fisik-materi itulah yang bisa dibuktikan secara empirik,sedang definisi pengertian ‘ilmu’ menurut versi Tuhan adalah alat atau jalan atau cara untuk mengelola dan memahami keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit (sehingga kedua alam itu bisa difahami sebagai sebuah kesatuan unit-sistem),dan metodologi ilmu versi Tuhan itu tidak dibatasi oleh keharusan bukti empirik sebab pertama : realitas itu terdiri dari yang abstrak dan yang konkrit sehingga untuk memahami keduanya secara menyatu padu otomatis metodologi ilmu tak bisa dikonsep harus sebatas yang bisa terbukti secara empirik sebab bila demikian maka dunia abstrak menjadi keluar dari konstruksi ilmu,dan kedua : secara alami manusia sudah diberi akal dan hati yang memiliki ‘mata’ untuk menangkap dan memahami realitas atau hal hal yang bersifat abstrak.(bila mata indera adalah alat untuk menangkap realitas dunia lahiriah-material,maka akal adalah alat untuk menangkap konstruksi nya sedang hati menangkap essensinya).
    Sebab itu bila ilmu diibaratkan sebuah bangunan besar yang memiliki banyak ruang maka ‘sains’ (termasuk teknologi) didalamnya adalah salah satu kamarnya.inilah gambaran tentang ilmu yang tidak difahami kaum materialist,yang gambarannya tentang ‘ilmu’ hanya hidup diruang ‘sains’.ia lupa atau tidak tahu bahwa teramat banyak ruang lain yang untuk memasukinya memiliki metode yang berbeda dengan sains.

    Jadi mesti diingat bahwa ‘sains’ pengertiannya kini harus difahami sebagai ‘ilmu seputar dunia materi’ (yang bisa terbukti secara empirik) agar dalam pandangan manusia pengertiannya tidak tumpang tindih dengan definisi pengertian ‘ilmu’ yang sebenarnya. jadi ‘sains’ bukanlah ilmu dalam pengertian yang bersifat menyeluruh karena wilayah cakupannya terbatas sebatas dunia materi yang bisa di tangkap dunia indera, (sebab itu sungguh janggal bila parameter sains digunakan sebagai alat untuk menghakimi agama yang wilayah jelajahnya meliputi keseluruhan realitas,sebab itu sama dengan meteran tukang kayu digunakan untuk mengukur lautan nan dalam).

    Artinya bila dilihat dari kacamata sudut pandang Tuhan maka apa yang dimaksud ‘sains’ sebenarnya adalah salah satu cabang ilmu,tapi kacamata sudut pandang saintisme mengklaim bahwa (satu satunya) definisi pengertian ‘ilmu’ yang benar menurut mereka adalah konsep saintisme / yang memparalelkan pengertian ‘ilmu’ dengan ‘sains’ seolah hanya sains = ilmu, dan ilmu = hanya sains,dimana selain ‘sains’ yang lain hanya dianggap ‘pengetahuan’ (sebagaimana telah tertera dalam buku buku teks filsafat ilmu).
    Kaum materialist tidak mau menerima bila konsep ‘ilmu’ dikaitkan dengan realitas dunia abstrak sebab saintisme berangkat dari kacamata sudut pandang materialistik ‘bermata satu’.yang pasti bila kita menerima definisi konsep ‘ilmu’ versi barat (dengan metodologi yang harus terbukti secara empirik) maka agama seperti ‘terpaksa’ harus difahami sebagai ‘ajaran moral’ bukan kebenaran berasas ilmu (sebagaimana pemahaman filsafat materialist terhadap agama).padahal menurut konsep Tuhan agama adalah kebenaran berdasar ilmu,(hanya ‘ilmu’ yang dimaksud adalah konsep ilmu yang bersifat universalistik yang hanya bisa difahami oleh manusia yang ‘bermata dua’/bisa melihat kepada realitas dunia abstrak dan dunia konkrit secara berimbang).
    Jadi mari kita analisis masalah (ilmu dan kebenaran ) ini dari dasar dari realitas yang bersifat menyeluruh,sehingga umat manusia tidak terdoktrin oleh ‘kebenaran’ versi sudut pandang materialist yang sebenarnya berpijak pada anggapan dasar bahwa yang real atau ‘realitas’ adalah hanya segala suatu yang bisa tertangkap dunia indera (dan secara metodologis bisa dibuktikan secara empirik),dan terlalu picik untuk bersandar pada anggapan demikian, mengingat hanya sebagian kecil saja realitas yang bisa ditangkap oleh dunia pengalaman indera manusia,sehingga wajar bila melalui agama Tuhan memberitahukan kepada manusia realitas yang dunia panca indera manusia tidak bisa menangkapnya.

    Jadi bila saat ini banyak pandangan yang ‘bias’ – ‘rancu’ seputar hubungan agama dengan ilmu itu karena definisi pengertian ‘ilmu’ yang saat ini dominan dan menguasai dunia adalah definisi ‘ilmu’ versi saintisme itulah,dan banyak orang yang belum bisa mengoreksi pandangan saintisme itu dari benaknya,banyak orang yang tanpa sadar memakai kacamata saintisme dalam memahami hubungan agama dengan ilmu sehingga kala melihat agama ia melihatnya sebagai suatu yang seolah ‘berada diluar wilayah ilmu’ itu karena saintisme membatasi ‘ilmu’ sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi. sedang definisi pengertian ‘ilmu’ versi Tuhan memang hanya difahami sedikit orang yang memiliki pandangan berimbang antara melihat kedunia abstrak dengan melihat ke dunia konkrit.
    Agama yang difahami secara benar dan ilmu pengetahuan yang juga difahami secara benar akankah bertentangan (?),mustahil ! sebab dua hal yang benar mustahil bertentangan satu sama lain melainkan akan saling mengisi satu sama lain walau masing masing mengisi ruang yang berbeda serta mengemukakan kebenaran dalam persepsi yang berbeda.(hanya manusia yang sering tidak bisa menyatu padukan beragam ruang serta beragam persepsi yang berbeda beda itu padahal semua ada dalam satu realitas keseluruhan dan mengkristal kepada suatu kesatuan konsep-makna-pengertian).
    Agama dan ilmu telah menjadi korban fitnah besar dan telah menjadi seperti ‘nampak bertentangan’ karena dalam sejarah telah terjadi provokasi besar besaran oleh kacamata sudut pandang ideology materialistik yang memposisikan agama dan ilmu pada posisi yang seolah bertentangan,karena kacamata sudut pandang materialistik melihat-memahami dan mengkonsepsikan agama secara salah juga melihat-memahami dan mengkonsepsikan ‘ilmu’ secara salah akibatnya mereka (materialist) sulit menemukan keterpaduan antara agama dengan ilmu.
    Sebab itu bila ingin memahami konsep agama dan ilmu secara benar kaji kitab suci secara ilmiah dengan tidak bersikap a priori terlebih dahulu.dan yang mesti diingat adalah bahwa segala bentuk hipotesa – teori yang tidak berdasar fakta-yang cuma khayalan – yang cuma teori-filosofi seputar sains yang berdasar ideology materialist (bukan murni sains),semua adalah ‘karat’ yang membuat agama dengan ilmu akan nampak menjadi bertentangan, sebab agama hanya menerima yang berdasar fakta kenyataan sebagaimana yang Tuhan ciptakan.Ironisnya tidak sedikit ilmuwan-pemikir yang menelan mentah mentah konsep saintisme ini sehingga agama dan ilmu nampak berada pada kotak yang berjauhan yang seperti sulit atau tidak bisa disatu padukan,bahkan pengkaji masalah hubungan agama-ilmu seperti Ian g. barbour sekalipun belum bisa melepas kacamata saintisme ini dari kacamata sudut pandangnya sehingga ia menemukan kerumitan yang luar biasa kala membuat peta hubungan antara agama dengan ilmu.

    ‘Sains murni’ seperti hukum fisika mekanisme alam semesta,hukum hukum ilmu fisika murni, matematika murni,ilmu tentang listrik,ilmu tentang komputer,biology dlsb.yang memiliki bukti fakta empirik yang konkrit yang pasti dan terukur pasti tidak akan bertentangan dengan agama justru menguatkan pandangan agama,tapi teori khayali yang tak berdasar kenyataan seperti Darwin pasti akan berbenturan dengan agama,tapi oleh kaum materialist ilmiah justru teori inilah yang dibesar besarkan dan dihadapkan pada garis terdepan (seolah ia mewakili dunia ilmu !) dan dibenturkan secara langsung dengan agama kala membahas masalah hubungan agama dengan ilmu hingga lahirlah salah satu fitnah akhir zaman yang terbesar sepanjang sejarah didunia.
    Saat ini dengan eksistnya ideology materialisme ilmiah di dunia sains nampak fitnah itu seperti dijaga ketat supaya terus ada hingga kini dengan berbagai cara bahkan dengan cara yang tidak ilmiah sekalipun,seperti contoh : kengototan luar biasa dalam mempertahankan teori Darwin saat teori itu makin terbukti tidak memiliki validitas ilmiah-kemudian penafsiran teori relativitas lalu fisika kuantum ke arah yang sudah bukan sains lagi yaitu ke tafsir tafsir materialistik,dicurigai dibalik semua itu mereka sebenarnya tidak ingin agama dan ilmu nampak sebagai dua konsep menyatu padu sebab kesatu paduan agama dengan ilmu sudah pasti akan menghancurkan ‘kredibilitas ilmiah’ ideology atheistik materialistik yang bersembunyi dibalik wacana wacana filsafat-sains.
    pemikiran-pandangan-opini-pernyataan mereka itulah yang membuat filsafat-sains nampak selalu berbenturan langsung dengan agama,artinya mereka (materialist) berusaha memonopoli tafsir tafsir seputar sains sehingga penafsir sains yang menafsirkan segala suatu seputar sains diluar cara pandang mereka akan langsung distigma kan sebagai pernyataan yang ‘apologistik’ (dibuat buat agar nampak ‘ilmiah’).
    itulah adanya dua konsep ‘ilmu’ melahirkan adanya dua konsep kebenaran yang jauh berbeda : kebenaran versi sudut pandang manusia dan kebenaran versi sudut pandang Tuhan. (karena ilmu adalah konstruksi dari konsep kebenaran).dimana ’kebenaran’ versi ‘saintisme’ adalah terbatas pada segala suatu yang tertangkap dunia pengalaman indera dan atau bisa dibuktikan secara empirik,berbeda jauh dengan konsep ‘kebenaran’ versi Tuhan bukan (?).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s